Tanggal : 6 April 2021
Berasal dari : Sawit Watch
Alamat : Komplek IPB Baranangsiang III, Jl. Danau Singkarak Blok H. No. 17, Bogor, 16124
Kontak Person : Inda Fatinaware – Direktur Sawit Watch (0811448677)

Astrid Puspitasari – Staf Sawit Watch(08561923899)

 

Menuju Perkebunan Sawit Berkelanjutan di Kabupaten Bulungan

[Tanjung Selor, 6 April 2021] Kabupaten Bulungan memiliki potensi dari sektor perkebunan yang bisa menopang kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Perkebunan di Kab. Bulungan masih didominasi oleh perkebunan sawit yang sebagian besar dikuasai oleh perusahaan. Perkebunan sawit memberikan dampak positif, namun tidak sedikit pula permasalahan yang ditimbulkan oleh perkebunan sawit. Tata kelola perkebunan sawit yang berkelanjutan telah menjadi perhatian serius berbagai pihak demi mewujudkan pengelolaan kebun yang lebih baik sesuai dengan standar nasional maupun internasional.

WhatsApp Image 2021-05-27 at 10.21.09

Inda Fatinaware, Direktur Eksekutif Sawit Watch dalam agenda Urun Rembuk BersamaMenuju Perkebunan Yang Lebih Maju, Berkelanjutan dan Lebih Menyejahterakan Masyarakat Bulungan yang dilaksanakan pada Selasa 05 April 2021 lalu mengatakan, “Indonesia merupakan negara produsen sawit dengan luasan kebun terbesar di dunia namun sayangnya produktifitas kebunnya masih sangat rendah. Hal ini mencerminkan bahwa tata kelola sawit di Indonesia masih bermasalah dan belum baik. Komoditi sawit selalu dikatakan pahlawan ekonomi, padahal untuk menjadi pahlawan banyak syarat yang harus dipenuhi, jangan hanya bangga bahwa sawit berkontribusi bagi devisa, namun haruslah turut bertanggungjawab. Bertanggung jawab memiliki arti bahwa sawit haruslah memperhatikan lingkungan masyarakat disekitar, bagaimana nasib buruh, petani masyarakat adat dan lokal yang terimbas dari aktivitas perkebun sawit. Ini jadi tantangan untuk perbaikan tata kelola kedepan,” ujar Inda.

“Saat ini berlaku kebijakan Instruksi Presiden No. 8 Tahun 2018 terkait moratorium dan evaluasi perkebunan sawit. Kebijakan ini dapat menjadi tools bagi Pemkab Bulungan untuk melakukan evaluasi perizinan perkebunan sehingga dapat menjadi langkah awal perbaikan tata kelola sawit di Kab. Bulungan. Selain itu, perumusan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) RTRW yang telah disusun dapat menjadi langkah awal yang baik sebagai acuan bagi Pemkab Bulungan untuk pembangunan yang mengedepankan prinsip keberlanjutan,” tambah Inda.

Achmad Yani, Kepala Dinas Pertanian Kab. Bulungan berpendapat bahwa, “Masih banyak permasalahan di sektor perkebunan, terutama persoalan kemitraan petani plasma. Plasma dari tahun ke tahun tidak terselesaikan dengan baik, kami akan panggilan satu per satu perusahaan dan koperasi untuk melihat apa permasalahannya yang tidak selesai dari dulu hingga sekarang. Namun memang, saat ini sudah ada titik terang yaitu dua perusahaan dengan koperasi memiliki titik temu dan poin kesepakatan. Ini yang akan menjadi contoh bagi perusahaan lainnya. Menjadi PR kita semua apa yang bisa kita lakukan bagi perkebunan di Kab. Bulungan. Yang mana muara dari semua usaha ini adalah untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Yani.

Syarwani, Bupati Bulungan mengatakan, “Berbicara sektor perkebunan di Kab. Bulungan, yang paling menarik adalah komoditi sawit karena jika dibandingkan dengan komoditas lain, yang paling luas adalah perkebunan sawit. Isu utama permasalahan di perkebunan sawit yaitu terkait pelaksanaan plasma, melalui forum ini diharapkan dapat menghasilkan rencana kerja bersama untuk penanganan permasalahan plasma yang ada di Kab. Bulungan.

Secara regulasi, pemerintah daerah telah memiliki peraturan daerah berkenaan dengan pelaksanaan plasma. Pemerintah daerah bersama anggota dewan berupaya melindungi masyarakat Kab. Bulungan ketika ada kegiatan investasi. Dimana masyarakat menjadi pihak yang mendapatkan dampak langsung berupa manfaat dari hadirnya perkebunan sawit di Kab. Bulungan. Terkait dengan komitmen pemerintah, kami mendorong dilakukannya evaluasi. Saya mengajak pemerintah daerah dan dewan untuk membuka kembali dokumen dan peraturan daerah untuk kita lakukan evaluasi, mungkin perlu adanya perbaikan dan penyempurnaan terkait dengan isu terkait dengan permasalahan plasma ini. Jika perlu ada penguatan maka kita akan lakukan penguatan. Saya sangat berkomitmen untuk memberikan dukungan terhadap upaya-upaya perbaikan baik secara regulasi maupun hal-hal yang bisa dikonsultasikan termasuk apa yang bisa kita hasilkan melalui urun rembuk ini dan menjadi hal bisa kita lakukan bersama-sama kedepan,” terang Syarwani.

“Saya berharap dukungan dari semua pihak dari para pegiat sawit secara khusus dan pemerintah secara umum. Mari kita bergandengan tangan bersama-sama memastikan kegiatan perkebunan di Kab. Bulungan betul-betul berkelanjutan dan mampu memberikan dampak bagi kesejahteraan secara langsung kepada masyarakat di Kab. Bulungan,” kata Syarwani.

 

Tentang Sawit Watch

Sawit Watch adalah sebuah organisasi non pemerintah di Indonesia yang didirikan sejak 1998 berbasis keanggotaan individu yang prihatin terhadap dampak-dampak negatif sistem perkebunan besar sawit. Anggota Sawit Watch tersebar di seluruh Indonesia dengan beragam latarbelakang. Sawit Watch berfokus pada persoalan perkebunan sawit di Indonesia. Sawit Watch dibentuk dengan tujuan untuk mewujudkan perubahan sosial bagi petani buruh, dan masyarakat adat/lokal menuju keadilan ekologis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image