Hentikan Diskriminasi Terhadap Buruh Perempuan di Perkebunan Sawit

Foto 6.3 (2)

Industri sawit  di Indonesia sampai sejauh ini terus menjadi sorotan dari berbagai pihak. Koalisi Buruh Sawit menemukan praktik kerja eksploitatif di perkebunan sawit yang sudah berlangsung lama. Buruh perkebunan sawit bekerja dalam sistem kerja eksploitatif, tanpa jaminan kepastian kerja, tanpa jaminan kepastian upah, beban kerja yang berat serta tanpa jaminan sosial yang memadai.

Inda Fatinaware, Direktur Eksekutif Sawit Watch mengatakan korban utama dari sistem kerja eksploitatif di perkebunan sawit adalah perempuan. “Perempuan yang bekerja di perkebunan sawit dianggap tidak ada, padahal buruh perempuan mengerjakan hampir setiap jenis pekerjaan di perkebunan sawit. Koalisi Buruh Sawit mencatat setidaknya 60 % dari total jumlah buruh perkebunan sawit adalah perempuan. Dari jumlah 60 % tersebut, sebagian besar adalah buruh prekariat, buruh perempuan bekerja tanpa mendapatkan hak-hak permanen sebagai buruh, tanpa kepastian kerja, tanpa dokumentasi perikatan kerja, upah minim dan tanpa perlindungan kesehatan memadai. Kami melihat ini sebagai bentuk diskriminasi terhadap buruh perempuan”, kata Inda.

Ridho (Serikat Buruh Perkebunan Indonesia) menyatakan kondisi eksploitatif yang dihadapi buruh perempuan di perkebunan sawit sudah berlangsung lama. “Investigasi Koalisi Buruh Sawit di sejumlah perkebunan sawit di Indonesia menemukan fakta pemanfaatan buruh dengan status precariat pada pekerjaan perawatan. Perempuan dipekerjakan sebagai buruh harian lepas (BHL) dan kontrak sampai belasan tahun. Perempuan dipekerjakan untuk melakukan penyemprotan, pemupukan, pembersihan areal, mengutip berondolan, dan pekerjaan lainnya yang ironisnya tidak dianggap sebagai pekerjaan inti di perkebunan sawit. Tidak ada kepastian mereka masih akan bekerja besok dan karena itu tidak ada kepastian memperoleh upah. Jelas bahwa kondisi ini merupakan pelanggaran terhadap hak buruh atas kepastian kerja dan upah”, kata Ridho.

Perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja buruh perempuan perkebunan sawit juga sangat minim. “Tidak semua perkebunan sawit menyediakan alat pelindung diri yang memadai, padahal pekerjaan buruh perempuan di bagian perawatan rentan terpapar zat beracun. Perusahaan perkebunan sawit tidak menyediakan informasi tentang potensi dampak dan bahaya dari zat kimia yang digunakan. Kami menemukan sejumlah kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja akibat perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja tidak memadai”, kata Ismet Inoni, Kepala Departemen Organisasi DPP GSBI

Komitmen pemerintah dan korporasi dalam perlindungan buruh perkebunan sawit, khususnya buruh perempuan masih rendah. “Pemerintah misalnya, dalam semua pembahasan tentang industri kelapa sawit, hal-hal perlindungan buruh tidak pernah disinggung. Justru malah mengeluarkan kebijakan yang akan semakin memperburuk kondisi kerja. Perluasan sektor pekerjaan alih daya di Omnibus Law Cipta Kerja misalnya, hanya akan memperpanjang kerentanan buruh perempuan di perkebunan sawit. Perempuan buruh harian lepas selamanya tidak akan pernah menjadi buruh tetap. Di sisi lain, komitmen korporasi akan praktik kerja yang adil dan layak hanya diatas kerja saja, di lapangan situasinya justru bertolakbelakang”, kata Andi Akbar, TURC.

Koalisi Buruh Sawit meminta pemerintah Indonesia untuk menata sistem perburuhan yang menempatkan buruh sebagai subjek yang hidup layak. “Regulasi perburuhan di Indonesia masih lemah dalam hal melindungi buruh perkebunan sawit. Regulasi perburuhan Indonesia yang ada, tidak dapat mengakomodasi situasi kerja di perkebunan sawit. Oleh karena itu, Koalisi Buruh Sawit meminta pemerintah menetapkan kebijakan perlindungan buruh perkebunan sawit. Diskriminasi dan kerentanan buruh perempuan di perkebunan sawit harus dihentikan”, kata Zidane, Koordinator Koalisi Buruh Sawit.

Sabtu, 7 Maret 2020

Kontak Person :

Ridho – Serbundo (081375771974)

Ismet – GSBI (081383493575)

Zidane – Koordinator KBS/Sawit Watch (085846529850)

Akbar – TURC (085250818485)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image