Fakta 3

Parlemen Uni Eropa melalui proses pemungutan suara telah mengesahkan rancangan proposal energi yang bertajuk “Report on the Proposal for a Directive of the European Parliament and of the Council on the Promotion of the use of Energy from Renewable Sources” yang dilakukan di gedung Parlemen Uni Eropa, Strasbourg, Prancis. Di dalam proposal tersebut tercantum penghapusan penggunaan biodiesel berbahan dasar kelapa sawit.

Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor minyak kelapa sawit dunia, menanggapi keputusan yang diambil oleh Parlemen Uni Eropa tersebut. Indonesia sangat menyayangkan hal tersebut dan menilai Parlemen Eropa telah bertindak diskiminatif terhadap produk minyak sawit Indonesia. Pemerintah berharap Parlemen Uni Eropa menghentikan tindakan-tindakan diskriminatif dan mendiskreditkan kelapa sawit.

Uni Eropa kemudian memberikan pernyataan bahwa keputusan tersebut tidak akan menghambat perdagangan dan bukan merupakan legislasi yang diskriminatif terhadap minyak kelapa sawit.  Meskipun mereka berkomitmen untuk menghapus penggunaan kelapa sawit untuk biodiesel, mereka tetap membutuhkan kelapa sawit untuk produk makanan, kosmetik, dan sebagainya.  Selain itu, mereka mendukung upaya-upaya Pemerintah Indonesia untuk memastikan adanya kelapa sawit yang berkelanjutan.

Indonesia adalah produsen dan eksportir kelapa sawit terbesar di dunia, yang bersama Malaysia, menghasilkan 85-90% total minyak sawit di dunia. Dengan terus meningkatnya permintaan global terhadap kelapa sawit, Indonesia terus berusaha meningkatkan produktivitas perkebunan sawit, termasuk dengan melakukan ekspansi lahan. Luas perkebunan sawit di Indonesia setiap tahun selalu mengalami peningkatan. Sampai tahun 2018, pemerintah mencatat luas perkebunan sawit Indonesia mencapai 14,03 juta hektar. Sawit Watch menyatakan angka berbeda, Sawit Watch mencatat luas perkebunan sawit di Indonesia telah mencapai 18,1 juta hektar. Peningkatan luas perkebunan sawit di Indonesia sangat fantastis,  mengingat di tahun 1980 luas perkebunan sawit hanya 290.000 hektar.

Mayoritas hasil produksi kelapa sawit Indonesia diekspor ke negara Uni Eropa dan negara Asia lainnya. Sampai saat ini, tujuan ekspor Indonesia masih didominasi oleh India, Uni Eropa dan Cina. Selama tahun 2017, ekspor CPO dari Indonesia menembus angka 23 miliar dolar AS atau naik 26 persen dibanding perolehan tahun 2016. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat, pada Januari 2018 ekspor minyak sawit Indonesia (CPO dan turunannya) membukukan kenaikan 4 persen jika dibandingkan dengan Desember 2017 atau dari 2,63 juta ton naik menjadi 2,74 juta ton. Kenaikan tersebut ditopang beberapa negara sasaran ekspor seperti Amerika Serikat, Bangladesh, dan India. Namun permintaan CPO Indonesia dari Uni Eropa mengalami penurunan sebesar 8% atau dari 437,94 ribu ton pada Desember 2017 menjadi 404,22 ribu ton pada Januari 2018.

Resolusi Uni Eropa terbut bukan berarti melarang impor minyak sawit sama sekali. Uni Eropa tetap memerlukan minyak sawit untuk produk makanan atau kosmetik. Uni Eropa hanya menghilangkan kelapa sawit dari program biofuel sebagai sumber energi terbarukan. Pemerintah mengkhawatirkan resolusi ini akan berdampak pada penurunan permintaan CPO dari negara-negara Uni Eropa.

Kekhawatiran turunnya permintaan terhadap setidaknya menjadi alasan bagi Pemerintah Indonesia untuk melawan “kampanye hitam kelapa sawit” yang disebarkan secara global. Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa terdapat “kampanye hitam” terkait kelapa sawit Indonesia, bahwa perkebunan kelapa sawit di Indonesia menyebabkan deforestasi, pelanggaran hak asasi manusia, serta menimbulkan permasalahan buruh dan buruh anak. Dengan kata lain, Indonesia tidak mengakui bahwa ada permasalahan yang terjadi di perkebunan kelapa sawit di Indonesia, bahwa resolusi uni eropa terkait kelapa sawit adalah hal yang tidak berdasar.

Ditulis oleh : Hotler Parsaoran – Sawit Watch

Artikel telah dipublikasikan penulis di Medan Bisnis Daily pada 7 Juni 2018, cek di link –> http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2018/06/07/349601/kondisi-buruh-perkebunan-sawit-bukan-kampanye-hitam/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *