xxx

Mengapa Perlu Moratorium Sawit ?

Saat ini,  perkebunan kelapa sawit di Indonesia sangat luas dengan beragam masalah mulai dari  kerusakan lingkungan, konflik sosial, kondisi buruh yang terabaikan, ancaman terhadap ketersediaan pangan dan lain-lainnya. Hal ini adalah momentum baik untuk melakukan perbaikan tata kelola perkebunan kelapa sawit lewat moratorium sawit. Terdapat beberapa alasan urgensi moratorium sawit (kebijakan penundaan perijinan baru bagi perkebunan besar kelapa sawit), yakni:

  1. Produktivitas Perkebunan Sawit Indonesia Rendah

Meski menjadi produsen CPO terbesar di dunia, tapi produktivitas tanaman kelapa sawit di Indonesia masih sangat rendah. Rata-rata produktivitas minyak kelapa sawit Indonesia hanya sebesar 3,7 ton per hektar per tahun (Herlina, 2010) hingga 3,85 ton per hektar per tahun (InfoSawit Feb 2013).  Data produktivitas yang lebih kecil disampaikan oleh Sawit Centre (2013) yang dicatat hanya sekitar 2-3 ton per hektar per tahun.  Sementara capaian produktivitas Malaysia 4,11 ton per hektar per tahun (tahun 2010), 4,37 ton (2011) dan diproyeksikan menjadi 4,50 ton di tahun 2015 (InfoSawit, Februari 2013).  Padahal dalam skala penelitian, potensi produksi minyak sawit dapat mencapai hingga 7-8 ton per hektar per tahun.[1]

Penilaian senada juga disampaikan Peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) bahwa produktivitas tanaman kelapa sawit Indonesia saat ini memang masih lebih rendah dari negara lain, namun demikian saat ini sudah ada beberapa perusahaan besar yang produktivitas minyak kelapa sawitnya sudah mencapai 7 ton per tahun.  Catatan lebih rinci dari Litbang Kementan juga tidak jauh berbeda bahwa produktivitas CPO perkebunan rakyat hanya mencapai rata-rata 2,5 ton per ha, sementara di perkebunan negara rata-rata menghasilkan 4,82 ton per hektar, dan perkebunan swasta rata-rata 3,48 ton per hektar.  Apabila dilihat pada produk asalnya, yaitu Tandan Buah Segar (TBS), maka produktivitas kelapa sawit menurut InfoSawit (Januari, 2013b) untuk kebun rakyat rata-rata adalah 16 ton per hektar per tahun, padahal potensinya dapat mencapai hingga 30 ton per hektar per tahun.[2]

Pemerintah Indonesia sendiri, sejak 2011 dalam Perayaan 100 tahun perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah mencanangkan arah masa depan pengembangan produktivitas perkebunan kelapa sawit nasional. Arah yang dimaksud adalah mengejar produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 35 ton TBS per hektar dengan rendemen minyak 26  persen (dikenal sebagai target 35-26) sehingga diperoleh sekitar 9 ton minyak sawit untuk setiap hektar.[3]

Menurut data Statistik Perkebunan Kelapa Sawit Nasional (Kementan, 2014), pencapaian protas perkebunan kelapa sawit nasional tahun 2013 baru mencapai 3.69 ton minyak/hektar. Protas sawit negara (PTPN) telah mencapai 3.97 ton minyak/hektar dan sawit swasta mencapai 3.37 ton minyak/ hektar. Produktivitas terendah adalah sawit rakyat yang baru mencapai rata-rata 2.82 ton minyak per hektar

Dengan rencana target produktivitas 9 ton minyak per hektar tersebut, berarti produktivitas  sawit nasional saat ini harus dinaikkan sekitar 3 kali lipat dari rata-rata produktivitas saat ini. Produktivitas kelapa sawit perkebunan negara dan perkebunan swasta besar perlu dinaikan 3 kali lipat dari produktivitas yang dicapai saat ini. Perkebunan kelapa sawit rakyat yang porsinya mencapai kurang lebih 45 persen  areal  sawit  nasional,  dengan rata-rata produktivitas yang masih rendah saat ini memerlukan upaya ekstra sehingga dapat mendongkrak lebih dari produktivitas 4 kali lipat untuk mendekati target produktivitas nasional tersebut.

Masih rendahnya produktivitas perkebunan kelapa sawit Indonesia, dimana perkebunan kelapa sawit negara dan perkebunan kelapa sawit swasta besar dapat ditingkatkan 3 kali lipat dari produktivitas rata-rata saat ini dan perkebunan kelapa sawit rakyat dapat ditingkatkan 4 kali lipat dari produktivitas saat ini mengindikasikan bahwa moratorium pemberian perizinan baru perkebunan kelapa sawit dan pembangunan perkebunan kelapa sawit baru saat ini menjadi relevan ditengah berbagai persoalan perkebunan kelapa sawit saat ini. Moratorium pemberian perijinan baru perkebunan kelapa sawit dan pembangunan perkebunan kelapa sawit baru menjadi tidak relevan lagi ketika produktivitas perkebunan kelapa sawit telah mencapai 9 ton minyak sawit per hektar.

[1] Fattah, Abdul. 2013. Studi Kinerja Produktivitas Kelapa Sawit di Kalimantan Timur. Jurnal Agrifor. Samarinda

[2] idem

[3] Paspi. 2015. Menuju Produktivitas 35-26 Sebagai Sumber Pertumbuhan Perkebunan Kelapa Sawit Nasional Berkelanjutan. Monitor Vol 1/3. 2015. Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *