xxx

Sawit Watch, 22/03, Laporan penelitian yang dilakukan Yanto Santosa, Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB, menyatakan bahwa Deforestasi di Indonesia bukan disebabkan Kelapa Sawit. Pernyataan ini diungkapkan setelah melakukan penelitian di Kabupaten Kampar, Kuantan Sengingi, Pelalawan dan Siak yang kesemuanya berada di wilayah Provinsi Riau.

Merujuk pada data Statistik Perkebunan Indonesia 2014-2016 yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Perkebunan, Riau memiliki luas perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan total luasan 2.290.736 ha. Dari total luasan ini, perkebunan besar swasta memiliki luasan 847.331ha, perkebunan negara 85.586 ha dan perkebunan rakyat 1.357.819 ha.
Inda Fatinaware, Direktur Eksekutif Sawit Watch, menanggapi hasil penelitian tersebut dengan mempertanyakan kredibilitas dari peneliti dan hasil penelitian tersebut. Menurut Inda, luar biasa sekali, sekelas Profesor sudah mengambil kesimpulan bahwa Sawit bukan faktor penyebab deforestasi hanya berdasarkan sample dari satu provinsi. Biar diketahui, perkebunan kelapa sawit di Indonesia bukan hanya di Riau saja, dari Aceh sampai dengan Papua, sekarang berlomba-lomba menanam sawit dengan dukungan penuh dari pemerintah. Sample dari satu provinsi digeneralisasi untuk semua perkebunan sawit bukan penyebab deforestasi, maka wajar jika kami mempertanyakan kredibiltas peneliti dan hasil penelitiannya.

Bahwa yang disampaikan peneliti, pembangunan perkebunan kelapa sawit berada di wilayah APL dan bekas HPH/HPK itu benar, tetapi apakah beliau tahu kalau wilayah APL itu juga berhutan. Definisi sederhana hutan adalah masyarakat tumbuhan yang terdiri dari pepohonan, semak belukar, tumbuhan bawah, jasad tanah dan hewan. Kalau merujuk kedefinisi ini, tentunya tidak salah ketika sawit dinyatakan sebagai aktor utama deforestasi di Indonesia. Jadi tidak perlu berkelit dengan dalil, bekas HGU perusahaan, wilayah APL atau yang lainnya. Hasil penelitian ini menurut kami ambigu, satu sisi mengatakan bukan kawasan hutan tapi disisi lain mengakui, bahwa sekian persen adalah eks/bekas kawasan hutan. Hasil ini kan sedikit lucu dan yang melakukan adalah Guru besar Ilmu Kehutanan, bukan orang sembarang, jelas Inda.

Wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini di wilayah Kabupaten Boven Digoel, saat ini terus terjadi pembangunan perkebunan kelapa sawit dengan menebang semua pohon dan diganti dengan kelapa sawit. Jadi kalau Prof Yanto memiliki kesempatan bisa lah dia ke wilayah perbatasan Papua dan melihat kalau hutan sudah tidak ada dan yang ada hanya hutan sawit. Kalau setelahnya masih dibilang bahwa Sawit bukan penyebab deforestasi, kami pikir, kredibilitas sebagai Guru Besar perlu dipertanyakan, lanjut Inda.

Sawit Watch mencatat, sampai dengan tahun 2016 luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini sudah mencapai 16,1 juta ha. Proses perkembangannya sangat massif dan menyasar pulau-pulau kecil di kepulauan Maluku, dan juga Papua. Lebih lanjut, terdapat total 229 perusahaan yang tidak lolos PP 60/2012. Seperti diketahui, PP ini mengatur tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan. Dengan kata lain, sudah terjadi pelanggaran yang sengaja dilakukan oleh perusahaan dengan melakukan usaha di kawasan hutan.

Untitled

Lebih lanjut, Inda menyatakan bahwa, pada tahun 2015 saja sudah terjadi alih fungsi kawan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dengan total luasan 6,6 juta ha. Ada indikasi jelas perusahaan melakukan usaha di kawasan hutan, dan ini merupakan bukti bahwa kelapa sawit melakukan deforestasi. Deforestasi periode 2009-2013 di dalam konsesi perkebunan kelapa sawit adalah sebesar 515,9 ribu hektare, dimana 327,5 ribu hektare diantaranya berada di dalam konsesi-konsesi perkebunan sawit di Pulau Kalimantan. Jadi jangan memandang bahwa apa yang terjadi di Riau bisa digeneralisir ke seluruh Indonesia.
Perkembangan ini sangat disayangkan, dan tentunya peru dicermati kembali oleh pemerintah. Jangan sampai hasil penelitian yang dikeluarkan Guru Besar ini, menjadi rujukan pemerintah dalam mengambil keputusan untuk terus memperluas perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Bahwa yang dibutuhkan sekarang adalah intensifikasi bukan ekstensifikasi. Moratorium yang belum dikeluarkan presiden harusnya menjadi awal baik bagi perkebunan kelapa sawit di Indonesia untuk berbenah, tandas Inda.

###

Nara Hubung :

1. Inda Fatinaware (Direktur Eksekutif) / inda@sawitwatch.or.id
2. Maryo Saputra Sanuddin (Kepala Desk Kampanye) / maryo@sawitwatch.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *