Kabupaten OKI, Bulan April lalu Sawit Watch bekerjasama dengan Serikat Hijau Indonesia (SHI) melakukan studi tenurial sumberdaya ekosistem gambut di 6 desa di kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan di desa Perigi, Toman, Tulung Seluang, Cinta Jaya, Menang Raya dan Pulau Geronggang. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka perlindungan dan pengelolaan wilayah ekosistem gambut di wilayah yang tahun 2015 lalu mengalami kebakaran hebat dan sebagian besar titik api berada di kawasan hidrologis gambut.

Dari hasil studi tersebut, kami mendapatkan sejumlah informasi yang kami peroleh dari masyarakat, mengenai sejarah atau profil desa berikut dengan peta sketsa sumber daya alam di wilayah ekosistem gambut yang menjadi wilayah kelola masyarakat lokal. Dalam tulisan ini kami akan menyajikan informasi mengenai Desa Tulung Seluang di Kabupaten OKI Sumatera Selatan.

Profil desa

Nenek moyang warga Tulung Seluang bernama H. Rete berasal dari Dusun Lebung Gajah. Berdiri pada tahun 1919 dengan nama Kampung IV Tulung Seluang Dusun Lebung Gajah. Nama Tulung Seluang diambil dari sungai kecil yang banyak ikan seluang. Pada tahun 1919 s.d 1920 Dusun Lebung Gajah dipimpin oleh seorang Kerio (kepala dusun) yang bernama Tari, sedangkan Kampung IV Tulung Seluang dipimpin oleh Penggawe (…………………) bernama Titing. Kepemimpinan Dusun Lebung Gajah, sebagai berikut.

–          Tahun 1920 s.d 1928 Kerio Loyo

–          Tahun 1928 s.d 1936 Kerio Leteng

–          Tahun 1936 s.d 1946 Kerio Asim

–          Tahun 1946 s.d 1956 Kerio Ranggon

–          Tahun 1956 s.d 1966 Kerio Ranggon

–          Tahun 1966 s.d 1984 Kerio-Kades Masri

–          Tahun 1984 s.d 1992 Kades Hopli Ahmad

–          Tahun 1992 s.d 1993 PJS Kades Sarintan Asim

–          Tahun 1993 s.d 2002 Kades Masri Menawan

–          Tahun 2002 s.d 2004 kades Usman Koden

–          Tahun 2005 s.d 2005 PJS Kades Kornen Alifia

–          Tahun 2005 s.d 2010 Kades Helmi

–          Tahun 2010 s.d 2016 Kades Yaman

Kampung IV Tulung Seluang Dusun Lebung Gajah pada waktu itu dipimpin oleh seorang penggawa yaitu sebagai berikut.

–          Tahun 1919 s.d 1920 Penggawe Nami

–          Tahun 1920 s.d 1928 Penggawe Tingting

–          Tahun 1928 s.d 1936 Penggawe Cik Nang

–          Tahun 1936 s.d 1946 Penggawe Cik Nang

–          Tahun 1946 s.d 1956 Penggawe Camat

–          Tahun 1956 s.d 1966 Penggawe Camat

–          Tahun 1966 s.d 1976 Penggawe Jahri (berubah menjadi kampun V)

–          Tahun 1976 s.d 1984 Penggawe Robbana

–          Tahun 1984 s.d 1992 Kadus Matnata

–          Tahun 1992 s.d 1993 Kadus Mashud

–          Tahun 2002 s.d 2004 Kadus Aji Yaharman

Kemudian pada tahun 2005 diadakan pemekaran Desa Lebung Gajah, dan kampung V Tulung Seluang Dusun Lebung Gajah menjadi Desa Tulung Seluang dengan pimpinan di pegang oleh PJS. Kemudian tahun 2007 diadakan pemilihan Kepala Desa, dan menjadi defenitif dengan memiliki dua kampung dengan Kepala Desa terpilih pada saat itu adalah Aslan Sulaiman dengan masa jabatan tahun 2007 s.d 2012. Kemudian pada bulan November 2013 diadakan pemilihan Kepala Desa, dengan Kepala Desa terpilih yaitu Ronek Regen.

Aturan yang berlaku di Desa Tulung Seluang, yaitu sebagai berikut.

  1. Aturan bercocok tanam (sonor), penanaman padi di musim penghujan yaitu pada bulan Februari, dengan menggunakan sistem garap yaitu di tebang tebas pada bulan Juli, kemudian pembakaran lahan pada bulan Oktober dengan cara dibersihkan setiap batas atau dikekas, kemudian baru dibakar. Masa ngetam (panen padi) yaitu pada bulan April-Mei.

Sangsi yang berlaku dalam aturan bercocok tanam, apabila pembakaran yang dilakukan mengenai tanam tumbuh warga lain maka akan dikenakan denda sebesar Rp 100.000,00 sebagai ganti rugi dan ganti tanam tumbuh dengan menanamkan kembali (nyulam/ rehabilitasi kebun).

  1. Aturan pernikahan, tidak diperbolehkan menikah dibawah usia 18 tahun, aturan adatnya yaitu pihak laki-laki harus memenuhi permintaan perempuan dengan membayar mas kawin, sebelum pernikahanpihak wali dari laki-laki datang ke pihak perempuan untuk meminang (rembuk rasan).
  2. Aturan penyelesaian masalah, jika kedapatan mencuri akan diserahkan ke Kepala Desa dan diserahkan ke pihak yang berwajib, jika berkelahi akan diselesaikan dengan cara musyawarah (dengan perdamaian). Kemudian sengketa tanah antar warga diselesaikan secara musyawarah.
  3. Aturan pengambilan ikan, yaitu dengan cara menggunakan alat bubuh, penilar, mnacing, dan pasang tajur.

 

###

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *