sketsa toman
Kabupaten OKI,
Bulan April lalu Sawit Watch bekerjasama dengan Serikat Hijau Indonesia (SHI) melakukan studi tenurial sumberdaya ekosistem gambut di 6 desa di kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan di desa Perigi, Toman, Tulung Seluang, Cinta Jaya, Menang Raya dan Pulau Geronggang. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka perlindungan dan pengelolaan wilayah ekosistem gambut di wilayah yang tahun 2015 lalu mengalami kebakaran hebat dan sebagian besar titik api berada di kawasan hidrologis gambut.

Dari hasil studi tersebut, kami mendapatkan sejumlah informasi yang kami peroleh dari masyarakat mengenai sejarah/profil desa dan peta sketsa sumber daya alam di wilayah ekosistem gambut yang menjadi wilayah kelola masyarakat lokal. Dalam tulisan ini kami akan menyajikan profil desa yang pertama yaitu Desa Toman di Kabupaten OKI Sumatera Selatan.

Profil desa

Menurut tutur masyarakat setempat nenek moyang warga Desa Toman berasal merupakan sepasang suami istri yang berasal dari Bengkulu (laki-laki) dan Sekayu (perempuan) mereka mempunyai anak laki-laki yang mempunyai kemampuan atau keahlian. Dari keahliannya inilah ia dapat bekerja di Kesultanan Palembang sekaligus mempersunting putri sultan. Pada tahun 1800, mereka melakukan perluasan wilayah dan kemudian bergerak kearah timur kerajaan Sriwijaya dengan menyusuri sungai dan akhirnya mereka singgah di suatu tempat yang kemudian diberi nama Dusun Toman, kepala rombongan yang menetap di dusun Toman bernama “Riamon” dengan gelar “Maling Bagus”, sedangkan rombongan yang lain menetap di suatu tempat yang diberi nama Dusun Cambai, dan sebagian yang lain menetap di Dusun Kayuara. Hal ini bisa dibuktikan bahwa ketiga dusun ini menggunakan bahasa yang sama.

Pada tahun 1820 Dusun Toman meluai berkembang dan memiliki tatanan pemerintahan yang pada waktu itu pimpinan dusun disebut dengan kerio. Kerio pertama bernama Taer (1820 s.d 1838). Pada waktu itu stuktur pemerintahan kerio dibawah pimpinan pesira dengan sebutan Dusun Toman Marga Cambai Afdeling Iliran Banyuasin dan pusat pemerintahannya di Talang Betutu. Pada 1938 pemerintahan dusun Toman dipimpin oleh Kerio Kadimun (1838 s.d 1850), dilanjutkan lagi dengan kepemimpinan Kerio Sanudin (1850-1874). Pada tahun 1850 berdirilah Marga Tulung Selapan Kecamatan Pampangan Kewedanan Kayuagung. Beberapa tahun kemudian Marga Cambai bergabung dengan Marga Tulung Selapan sehingga Dusun Toman juga berpindah marga Tulung Selapan. Kemudian pada tahun 1874 sampai dengan dipimpin oleh Kerio Sayut. Pada tahun 1900 s.d 1922 pimpinan kerio beralih ke Abid Daud. Dilanjutkan lagi dengan pimpinan Kerio Sajiman Medahin (1922 s.d 1947), Kerio Malian Mael (1947 s.d 1969), Kerio Agen Simin (1969 s.d 1983), dan kemudian Kerio Agen Simin ditunjuk menjadi PJS Kepala Desa (4 april 1983 s.d 20 Juli 1985). Selanjutnya Desa Toman dipimpin oleh Kades Medan Mahayan (1985 s.d 1993), PJS Kades Hanan Bodeng (1993 s.d 1995), Kades Medan Mahayan (1995 s.d 2003), Kades Sojat (2003 s.d 2009), Kades Suharmen (2009 s.d 2015), dan Homsi (2015 s.d sekarang).

Keanekaraman hayati, seperti tumbuhan dan hewan yang dimiliki desa Toman cukup beragam. Seperti diantaranya tanaman padi, duku, rambutan, kelapa, ubi kayu, jelutung dll. Sedangkan hewannya seperti kerbau, sapi, kambing ayam dll.

###

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *