1

Kabupaten OKI, Bulan April lalu Sawit Watch bekerjasama dengan Serikat Hijau Indonesia (SHI) melakukan studi tenurial sumberdaya ekosistem gambut di 6 desa di kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan di desa Perigi, Toman, Tulung Seluang, Cinta Jaya, Menang Raya dan Pulau Geronggang. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka perlindungan dan pengelolaan wilayah ekosistem gambut di wilayah yang tahun 2015 lalu mengalami kebakaran hebat dan sebagian besar titik api berada di kawasan hidrologis gambut.

Dari hasil studi tersebut, kami mendapatkan sejumlah informasi yang kami peroleh dari masyarakat mengenai sejarah/profil desa dan peta sketsa sumber daya alam di wilayah ekosistem gambut yang menjadi wilayah kelola masyarakat lokal. Dalam tulisan ini kami akan menyajikan profil desa yang pertama yaitu Desa Perigi di Kabupaten OKI Sumatera Selatan.

Profil desa

Pada tahun 1819 nenek moyang warga Desa Perigi berasal dari Sekayu (Musi Banyu Asin) dan Jawa menetap di tiga tempat yakni, dusun Talang Lame (±20-30 orang mayoritas Jawa) dusun Sungai Musi (±10-15 orang dari Sekayu dan Jawa), dan dusun Lage Lalang (±10-20 orang dari Sekayu dan Jawa). Mereka melarikan diri dari tempat asal mereka karena mengindari para penjajah.

Pada tahun 1920 terjadi perubahan bentuk dusun dan jalan menjadi satu yaitu Pergi Talang Nangka. Penamaan desa ini diberikan oleh Belanda karena di desa ini banyak sumur dan pohon nangka karena pada saat itu Belanda mulai masuk ke desa Perigi Talang Nangka. Di zaman penjajahan Belanda ini lah pertama kali warga desa Perigi di kenalkan dengan pohon karet dan menamannya dikebun, dan kemudian pada masa penjajahan Jepang masuk ke Desa Perigi perkebunan karet mereka diperluas dan sampai saat ini karet dan padi menjadi sumber penghasilan utama sebagian besar warga desa Perigi.

Pimpinan pertama dusun 1, 2, dan 3 disebut kerie (setingkat kepala desa). Kerie pertama adalah Buyut Nun pada tahun 1819. Selanjutnya Kerie Matnamit dengan masa jabatan 45 tahun, Kerie Paren dengan masa jabatan 40 tahun, Kerie Malikin dengan masa jabatan 40 tahun, Kerie Kaliman dengan masa Jabatan 28 tahun, kerie Haji Nanguning dengan masa jabatan 25 tahun, kepala desa Drs. Arifin dengan masa jabatan 5 tahun, M. Aris dengan masa jabatan 10 tahun, Abu Nawas dengan masa jabatan 5 th sampai sekarang.

Pada tahun 1950 mata pencarian masyarakat desa Perigi, yaitu menyadap kabung (gula merah), mengambir purun (sejenis rumput yang bisa diolah menjadi bahan anyaman), tukang kayu, PNS, Pedagang, Petani, Mencari ikan (dibuat balur/ ikan asin, salai/ ikan asap, bekasam, pede)

Sejarah pengeolaan gambut

Sejarah pengelolaan lahan gambut untuk menanam padi, yaitu ditebas dengan gotong royong disebut pelarian. Setelah itu dikumpulkan ditengah-tengah lahan atau di panduk, kemudian dibiarkan selama satu bulan (dikeringkan), sebelum dibakar kayu di kekas terlebih dahulu setelah itu baru dibakar. Musim tanam padi rawang (rawa) yaitu pada bulan oktober-november, sedangkan musim panen padi rawang yaitu pada bulan maret-april.

Aturan yang berlaku dalam pengelolaan lahan gambut, yaitu jika membakar lahan calon kebun mengenai kebun warga lain dikenakan denda atau sangsi Rp 100.000,00 per batang karet (luas kebun karet di desa Peirgi sekitar 1.200ha).

###

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *