sorong 2Kabupaten Sorong Selatan merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Papua Barat. Penduduk asli yang mendiami wilayah ini terdiri dari 3 suku besar yaitu: Suku Tehit, Suku Imekko dan Suku Maibrat. Yang mana ketiga suku besar ini masih memiliki beberapa anak suku di dalamnya.

Kondisi nyata di kabupaten Sorong Selatan saat ini, telah terdapat beberapa perusahaan besar yang menguasai areal hutan salah satunya adalah PT. Kayu Lapis Indonesia Group (KLIG). PT KLIG ini dikenal pula sebagai perusahaan pembalakan kayu terbesar di Papua Barat. Sejak tahun 2009, banyak perusahaan kayu di Papua Barat yang sudah mulai mengalihkan investasinya ke sektor industri perkebunan kelapa sawit. Sebagai contoh, perusahaan besar tersebut adalah ANJ Agri. Perusahaan ini awalnya merupakan perusahaan perkebunan sagu namun kini telah beralih menjadi perusahaan perkebunan kelapa sawit. Bukan hanya itu sudah banyak juga perusahaan perkebunan yang mulai ekpansi di wilayah Papua Barat. Hal tersebut  tentu akan semakin mengancam wilayah hutan dan wilayah kelola masyarakat apabila perusahaan ingin terus melakukan ekspansi di diwilayah tersebut.

Pada akhir februari tahun 2016, Sawit Watch bersama dengan Belantara Papua melakukan kunjungan ke wilayah di Papua Barat yaitu Kabupaten Sorong Selatan tepatnya di Kampung Srer Distrik Seremuk. Dalam kunjungan tersebut Sawit Watch sempat berdiskusi dengan masyarakat kampung tentang kondisi wilayah dan kehidupan mereka khususnya yang berkaitan dengan hutan dan wilayah kelola mereka.

Mata pencaharian masyarakat kampung Srer pada umumnya adalah petani sagu atau sering mereka sebut dengan menokok. Selain petani sagu masyarakat juga bertani sayur-mayur dengan sistem bertani yang berpindah pindah. Saat ini sudah ada beberapa komiditi yang berkembang dan mulai dibudidayakan oleh masyarakat seperti tanaman kakao dan buah-buahan seperti rambutan dan duku. Tak hanya bertani, ternyata banyak pula masyarakat kampung srer yang juga bekerja sebagai nelayan untuk meningkatkan perekonomian mereka meskipun hasilnya juga tidak bisa dipastikan.

Dikampung srer tersebut terdapat satu potensi alam yang sangat menarik yaitu sungai yang sering mereka sebut dengan kali simra. Kali simra tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan lain sebagainya. Saat ini kali simra tersebut sedang didorong oleh masyarakat agar menjadi kawasan ekowisata. Tidak sedikit pengunjung yang datang ke kali simra tersebut bahkan pengunjungnya berasal dari kampung lain dan distrik lain untuk rekreasi.  Bagi pengunjung yang datang dikenakan biaya karcis sebesar Rp. 2.000 per orang. Kali simra tersebut saat ini di kelola sepenuhnya oleh masyarakat kampung.

Pemerintah daerah sendiri sudah beberapa kali meminta masyarakat untuk mengalihkan secara penuh kali simra tersebut menjadi milik pemerintah daerah. Tetapi masyarakat hanya bersedia jika pemerintah daerah menerapkan sistem menyewa sehingga akses masyarakat terhadap kali simra ini tidak dibatasi. Masyarakat sangat berharap kelestarian kali simra tersebut tetap terjaga dengan kondisi sungai yang bersih dan tidak tercemar.

Dalam diskusi dengan masyarakat Kampung Srer, mereka mengakui bahwa sudah beberapa kali kampung mereka di datangi oleh investor perkebunan sawit. Namun sampai saat ini atas bimbingan Dewan Persekutuan Adat Knasiamos, mereka mampu dengan tegas menolak investasi yang masuk ke wilayah mereka. Selain karena wilayah mereka tidak terlalu luas untuk di bangun perkebunan sawit mereka juga belajar dari pengalaman masyarakat di kampung lain yang menyerahkan tanahnya kepada pengusaha kayu. Masyarakat yang sudah menyerahkan tanahnya justru tidak semakin meningkat perekonomiannya justru menjadi sangat kehilangan akses ke wilayah tersebut bahkan sekedar mengambil kayu bakar pun mereka tidak bisa.

Masyarakat menyadari rendahnya pengetahuan dan pendidikan masyarakat bisa menjadi alat bagi para investor untuk mempengaruhi masyarakat agar memberikan tanahnya untuk investasi. Bukan hanya itu masyarakat juga sering sekali pecah belah melalui pendekatan yang dilakukan investor ke pihak-pihak tertentu di masyarakat sehingga memudahkan munculnya kepentingan pribadi dari masyarakat itu sendiri yang pada akhirnya berujung pada terjadinya konflik antar masyarakat. Investor, juga bisanya memiliki kemampuan untuk membangun hubungan dengan berbagai pihak khususnya dengan pemerintah, sehingga tidak heran pemerintah sering sekali dengan mudah memberikan ijin bagi para investor untuk melakukan ekspansi tanpa mengutamakan kepentingan masyarakat.

Ada hal informasi menarik yang didapat dari diskusi dengan masyarakat kampung srer. Bahwa saat ini masyarakat sedang mendapatkan program bantuan dari pemerintah daerah berupa pohon jati yang ditanam di wilayah hutan disekitar kampung. Biasanya dari pohon jati tersebut masyarakat mengambil hasilnya berupa kayu jati untuk dijual ke pasar. Waktu yang dibutuhkan cukup lama untuk masyarakat dapat mengambil hasil kayu jati tersebut. Selain itu dalam proses pemasarannya masyarakat justru mengalami kesulitan, karena kayu jati sendiri tidak laku di pasaran. Berbeda dengan jenis kayu lain seperti kayu besi, kayu matua dan kayu putih yang memang laku di pasaran bahkan ada jenis kayu yang harganya di atur dalam peraturan daerah. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dalam memberikan program ke masyarakat pun belum efektif karena masyarakat justru bukan dimudahkan justru mengalami kesulitan. Dan program tersebut tidak bisa diandalkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

###

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *