Artikel 7 (2)

Ikan Arwana, siapa tak kenal dengan jenis ikan ini? Ikan yang secara taksonomi tergolong kedalam famili Osteoglossidae ini merupakan salah satu jenis ikan hias yang cukup populer. Kepopuleran ikan ini tidak hanya di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri seperti China dan Jepang. Secara fisik, ikan ini memiliki beberapa keunikan, seperti susunan sisik yang rapi dan besar, warna sisik yang mengkilap, serta pergerakan tubuh yang tenang saat berenang menambah nilai keindahan ikan ini. Terdapatnya dua sungut (berfungsi sebagai sensor getar untuk mengetahui keberadaan mangsa di permukaan air) dibawah mulut juga menjadi ciri khas ikan ini. Kepopuleran ikan ini semakin bertambah dengan adanya anggapan beberapa kalangan yang menyatakan bahwa, ikan ini mampu membawa keberuntungan bagi siapa saja yang memilikinya. Hal-hal tersebut membuat ikan ini semakin diminati oleh pasaran.

Di beberapa wilayah di Indonesia dapat ditemukan beberapa jenis ikan arwana, salah satu jenis yang menjadi ikan khas (endemik) daerah Kalimantan Barat adalah  super red. Ikan yang dalam bahasa Latin mempunyai nama Scleropages formosus ini dapat ditemukan di perairan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dan daerah aliran Sungai Kapuas di Kabupaten Kapuas Hulu. Masyarakat lokal menamai ikan ini dengan sebutan “ikan silok”. Lokasi di Kapuas Hulu yang menjadi tempat penangkaran ikan arwana super red, terdapat di Desa Nanga Suhaid Kecamatan Suhaid Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat.

Nanga Suhaid adalah desa di Kecamatan Suhaid yang terdiri dari beberapa kampung. Sebagian besar masyarakat Suhaid bermatapencaharian sebagai nelayan. Tak hanya mengandalkan penghasilan dari profesi sebagai nelayan saja, masyarakat Suhaid pun telah sejak lama melakukan penangkaran ikan arwana untuk menambah pundi-pundi penghasilan mereka. Begitu banyaknya penangkaran ikan arwana membuat daerah ini dikenal dengan sebutan “bumi arwana”.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, penangkaran ikan arwana di desa Suhaid semakin marak dilakukan. Salah satu faktor yang melatarbelakanginya adalah faktor ekonomi. Ikan arwana memiliki nilai jual yang cukup tinggi di pasaran, terutama bagi para pecinta ikan hias. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari masyarakat dan kalangan pehobi ikan, untuk ikan arwana jenis super red berukuran sebesar batang korek api (umur 2-3 bulan) memiliki harga mencapi 2,5 juta rupiah per ekornya. Harga yang cukup mahal untuk jenis ikan hias. Tak heran jika masyarakat Suhaid beramai-ramai melakukan penangkaran ikan arwana karena cukup menjanjikan.

Kolam penangkaran silok biasanya dibangun di sekitar tempat tinggal, seperti sebelah rumah ataupun dibelakang rumah. Mereka menggunakan air dari sungai yang bersumber dari kawasan hutan yang tersisa untuk mengisi kolam dan siklus pergantian air kolam. Penggunaan air sungai ini bukan tak beralasan, hal ini dikarenakan habitat asli ikan arwana ialah berasal dari sungai tersebut. Selain itu kawasan sungai juga menjadi ladang mata pencaharian dan juga menjadi jalur transportasi masyarakat Suhaid.

Selain memanfaatkan sungai, masyarakat Suhaid juga masih memanfaatkan kawasan hutan/lahan yang tersisa disekitar desa. Mereka memanfaatkan hutan/lahan hanya semusim saja, artinya hanya dimanfaatkan ketika musim air pasang (hujan). Kawasan hutan yang masih dimanfaatkan tersebut diantaranya Hutan Segulai dan Hutan Batu Garam. Masyarakat biasanya mengambil batang-batang pohon untuk digunakan sebagai bahan baku dalam pembangunan rumah. Pengambilan ini biasanya tidak dilakukan besar-besaran  hanya beberapa batang saja. Jenis pohon yang biasanya digunakan diantaranya jenis pohon Tembesu, Kawi dan Rengas.

Sayangnya, saat ini ekosistem di sekitar Nanga Suhaid sampai TNDS terganggu. Hal ini diindikasikan makin maraknya ekspansi perkebunan kelapa sawit di sekitar TNDS. Pemanfaatan lingkungan, baik kawasan sungai maupun hutan masih cukup intens dilakukan masyarakat Suhaid. Kehidupan masyarakat masih sangat bergantung pada alam, sehingga kelestarian kawasan sungai dan  tersebut perlu dijaga oleh seluruh masyarakat Suhaid agar dapat terus dimanfaatkan terus hingga masa yang akan datang.

 

###

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *