Selamatkan Wilayah Pertanian Pangan

(1 dari 2 Tulisan)

Graphic1

Pangan merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan dalam kehidupan sehari- hari. Dalam proses pemenuhanya berbagai jenis pangan tersedia, termasuk banyaknya pangan dari luar yang mengancam eksistensi pangan lokal. Inilah yang mendasari Sawit Watch bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup Sulawesi Selatan (WALHI Sulsel) menggelar kegiatan’’ Makassar Green Food Festival’’ sebagai ajang untuk kampanye pangan lokal di Benteng Rotterdam, Makassar, Sulsel, Rabu (30/12/2015).

 “Hilangnya pangan lokal dibanyak daerah juga karena petani dan perusahaan didorong untuk menanam tanaman ekspor seperti sawit dan karet, yang menggantikan tanaman pangan. Ini mengakibatkan beras impor lebih murah dibandingkan produksi lokal. Indonesia kini menjadi negara pengekspor produksi perkebunan terbesar di dunia, tetapi menjadi negara pengimpor pangan terbesar”, ujar Riza dari Sawit Watch.

Berbagai organisasi turut berpartisipasi dalam kegiatan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Balang Institute dari kabupaten Bantaeng, Federasi Petani Sulsel, Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS) Kabupaten Bulukumba, LSM dan komunitas masyarakat lainnya. Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Wakil Wali Kota Makassar, Syamsul Rizal, SKPD Lingkup Pemprov Sulsel turut hadir dalam kegiatan ini.

Sementara itu, Asmar Exmar, Direktur Walhi Sulsel mengungkapkan, kegiatan yang mengangkat tema “Hidup Sehat dan Seimbang dengan Pangan Lokal” ini, sebagai bentuk kampanye bagi masyarakat terhadap pentingnya mengkonsumsi panganan lokal dengan sistem pertanian berkelanjutan yang memperhatikan dampak lingkungan.

“Salah satu ancaman yang kita hadapi sekarang adalah perubahan alih fungsi lahan yang membuat lahan-lahan produktif menjadi hilang, sehingga berbagai varietas lokal pun terancam hilang,” kata Asmar. “Keberadaan varietas lokal ini harus dilihat sebagai bagian dari identitas daerah yang harus terus dipertahankan keberadaanya”, lanjutnya.

Berbagai pangan lokal dipamerkan dalam festival ini, mulai dari hasil bumi yang belum diolah seperti pisang, kopi, jagung, umbi umbian, beras dan madu. Tak hanya itu berbagai olahan seperti kue kering dengan varian yang berbeda serta berbagai kerajinan tangan lainnya. Berbagai hasil bumi yang alami dan bahan utamanya didatangkan dari berbagai daerah seperti Bantaeng, Enrekang, Bulukumba, Sinjai, Takalar dan beberapa daerah lainnya.

Balang Institue, satu organisasi masyarakat yang konsen dalam isu lingkungan dan pangan, dalam kegiatan ini memamerkan berbagai hasil bumi masyarakat dampingan dari berbagai desa di bawah kaki gunung Lompobattang yang juga masuk dalam area kawasan hutan lindung, seperti kopi Robusta Lompobattang, madu, tepung dan berbagai olahan lainnya.

“Kegiatan ini menjadi wadah bersama untuk promosi dan menjual produk-produk yang tidak hanya bernilai ekonomi tapi juga bernilai konservasi”, ujar Saleh yang juga anggota dari Balang Institute.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image