@s-Cover Tandan Sawit Edisi No 4 tahun 2015_001

Editorial

Konferensi Asia-Afrika (KAA) tahun ini sudah berumur 60 tahun sejak diselenggarakan kali pertama di Bandung pada 19-24 April 1955. Dalam kurun  tersebut, KAA telah banyak menghasilkan capaian dalam mendorong proses perdamaian serta dekolonialisasi di negara-negara Dunia Ketiga. Namun demikian, tantangan zaman yang sudah sedemikian mengglobal dewasa ini perlu merumuskan ulang tujuan KAA agar tetap adaptif dan inovatif dalam memperjuangkan kesetaraan dan perdamaian di Dunia Ketiga. Dasasila Bandung, yang  dalam kajian akademik lebih dikenal sebagai “Bandung Spirit”, menjadi salah satu tonggak dan pendorong utama dalam proses dekolonialisasi negara-negara Dunia Ketiga pasca-KAA 1955.

Sumbangsih terpenting yang dihasilkan pasca-KAA 1955 adalah ideologi dunia ketiga. Ini adalah ideologi yang mendorong adanya emansipasi, independensi, serta kemandirian negara-negara Dunia Ketiga untuk membangun tatanan dunia yang lebih baik. Namun demikian, pasca 1970-an, semangat dunia ketiga mulai terkikis karena negara-negara Dunia Ketiga tidak mampu mempertahankan soliditas dan solidaritasnya sebagai blok baru dalam konstelasi internasional. Bahkan, negara Dunia Ketiga menjadi arena blok kapitalis dan blok komunis saling berebut  hegemoni.

Momentum peringatan 60 tahun KAA seharusnya dimaknai sebagai tahun “emas” untuk melihat apa saja yang berhasil diraih KAA hingga detik ini. Namun, bila masih dimaknai dalam balutan seremonial, premisif, apalagi normatif, maka sangatlah mubazir penyelenggaraan KAA tahun ini di Jakarta dan Bandung. Di luar lingkup  negara-negara Dunia Ketiga,  falsafah Bandung Spirit yang juga termaktub dalam dunia ketiga banyak mengilhami organisasi masyarakat sipil di negara-negara Dunia Ketiga untuk bergerak memperjuangkan hak-hak masyarakat sipil yang selama ini kurang didengar oleh negara. Pada akhirnya, kondisi subalternitas, voice of voiceless, serta marjinalisasi yang dialami masyarakat Dunia Ketiga mulai terangkat menjadi isu global. Ide besar “New World” yang dicetuskan Soekarno kemudian berkembang menjadi “Alternative World” pada tahun 1990-an yang pada dekade 2000-an mencetuskan gagasan “Another World is Possible” oleh Forum Sosial Dunia di Porto Alegre, Brasil.  Bahkan, gerakan #occupy  sejak 2010 hingga kini yang digerakkan oleh para aktivis di negara maju dan negara berkembang dalam mengkritik sistem kapitalisme dunia yang kolaps juga terinspirasi dari gagasan tersebut.

Masih hidup dan berkembangnya Third-Worldism “buah” dari KAA Bandung mengindikasikan bahwa membangun tatanan dunia yang lebih baik dan inklusif bagi negara dan masyarakat masih tetap disuarakan. Karena itu, perhelatan 60 tahun KAA setidaknya mengakomodasi dan mengafirmasi kembali gagasan-gagasan tersebut untuk berkembang menjadi poros baru dalam konstelasi global masa kini.

Silahkan download Tandan Sawit No 4 April 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *