Meningkatkan Peran Masyarakat Sipil dalam Sistem Sertifikasi Minyak Sawit Berkelanjutan

(Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Jambi)

Peningkatan jumlah dan populasi penduduk dunia secara signifikan, dimana dalam sebuah laporan hasil studi yang dilakukan oleh PBB pada tahun 2011, jumlah penduduk dunia telah berjumlah lebih dari 7 miliar orang, dan di tahun 2025 populasi ini akan meningkat 2 kali lipatnya. Situasi ini berakibat pada tingginya permintaan dunia terhadap pemenuhan bahan pangan yang salah satunya adalah minyak nabati. Berdasarkan berbagai hasil studi dan penelitian yang telah dilakukan, salah satu bahan baku minyak nabati yang paling diminati berasal dari kelapa sawit dengan melihat bahwa biaya produksi minyak sawit yang jauh lebih murah dari biaya produksi bahan baku minyak nabati lainnya. Selain itu, kelapa sawit melalui produk turunannya diyakini sebagai salah satu pengganti bahan bakar yang berasal dari bahan bakar fosil. Kondisi ini tentunya berdampak pada semakin meluasnya ekspansi perkebunan kelapa sawit tidak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia terutama di Afrika, Latin Amerika. serta benua Asia termasuk India dan Asia Tenggara.

Indonesia merupakan salah satu Negara terbesar yang memproduksi dan memiliki luasan perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia. Berdasarkan data Sawit Watch 2014, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah 13 juta ha dengan produksi CPO sebesar 27,1 juta ton/tahun (GAPKI,2013). Dari total hasil produksi ini, sebesar 80 % di ekspor dan sisanya sebesarĀ  20 % dialokasikan bagi pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Angka ini tentunya sangat menggembirakan di satu sisi dan disisi lain terdapat banyak persoalan serta konflik yang masih belum terselesaikan sampai saat ini.

Untuk detailnya, silahkan download file-nya:

Hasil Konsultasi Publik Interpetrasi Nasional P & C RSPO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *