Saya menyampaikan pernyataan sikap ini atas nama LSM Internasional, Nasional dan Lokal, Forest Peoples Programme, Sawit Watch, SETARA, CAPPA, Perkumpulan Hijau, para penandatangan keluhan yang telah dimasukkan ke IFC CAO pada bulan November 2011 terkait dengan kasus PT Asiatic Persada, yang hadir disini pada hari ini.

Berdasarkan pada fakta bahwa tujuan dan agenda dari pertemuan ini tidak disampaikan secara terbuka ke pada kami oleh mediator CAO di Indonesia sampai diminta dan kemudian baru diberikan, fakta bahwa tidak ada undangan resmi yang dikirimkan sampai diminta dan kemudian baru dikirimkan, fakta bahwa Meg Taylor telah memberitahukan kepada kami dalam suratnya bahwa putaran penutupan pertemuan akan dilakukan pada bulan ini, kami semua datang dengan pemahaman yang sama bahwa rapat ini merupakan akhir dari keterlibatan IFC CAO dalam kasus PT AP. Informasi tentang tujuan dari rapat ini diberikan kemarin dan hanya kepada tiga organisasi, dan kami berterimakasih kepada Scott Adam yang memberikan waktunya untuk membagikan informasi ini kepada kami, meskipun sangat  terlambat kami terima, dan kami mempertanyakan kenapa mediator CAO di Indonesia tidak ada memberikan respon terhadap permintaan ini. Kami juga tidak diberitahukan secara resmi tentang tempat atau waktu dari pertemuan ini.

Berdasarkan surat dari Meg Taylor, kami paham bahwa pertemuan ini adalah pertemuan penutupan dan sekaligus mempertanyakan kenapa tidak semua pihak hadir pada hari ini: mencakup semua komunitas terdampak, semua penandatangan dan tentu saja PT Asiatic Persada – WILMAR dan PT Anugrah Mandiri Semesta. Keterlibatan Pemerintah kami adalah bagian dari rencana mulia kita bersama, dimana kita perlu mempromosikan mediasi sebagai salah satu jalan damai penyelesaian konflik di Jambi, dan bahwa kegagalan ini adalah pembelajaran buruk bagi Pemerintah kami karena dalam mediasi yang gagal ini kita tidak hanya mengulur waktu untuk membiarkan WILMAR melarikan diri dari tanggungjawabnya dan memperpanjang waktu penderitaan bagi komunitas SAD. Kini Pemerintah kami harus dihadapkan pada konflik yang besar ini, dan akhirnya masyarakat melakukan demonstrasi besar-besaran karena tidak ada lagi harapan akan ada lagi perdamaian yang kita agungkan selama ini. Bahwa pertemuan ini tidak mewakili semua pihak, kami menganggap bahwa catatan pertemuan dan hasilnya juga akan sama tidak akan mewakili semua pemangku kepentingan yang seharusnya ada disini sekarang, dan kemudian juga hasil serta catatan dari pertemuan ini tidak akan bisa dianggap formal dan multi pihak. Dengan demikian, kami tidak punya pilihan lain pada tahap ini selain membuat pernyataan sikap ini. Kalian, JOMET, CAO dan Pemerintah, tidak bisa memastikan bahwa WILMAR berkomitmen terhadap perbaikan dan penyelesaian konflik secara terdokumentasi. Kalian cukup puas dengan komitmen saja.

Kami ingin menyampaikan kepada Scott Adam atas desakan kami untuk mendapatkan undangan resmi pada pertemuan ini, berdasarkan banyak pengalaman dari mediator CAO di Indonesia setelah kepergiaan Gamal. Salah satu contohnya adalah pertemuan di Kantor Gubernur Jambi pada bulan Mei 2013, dimana beberapa rekomendasi untuk tindak lanjut telah dibuat. Mediator CAO di Indonesia ini kemudian menyangkal keabsahan dan mengambil tindakan atas rekomendasi ini dalam diskusi melalui Skype dengan IFC CAO di Washington, menyatakan bahwa pertemuan tersebut tidak resmi, dan hasilnya bisa diabaikan. Kami tidak diberitahukan bahwa itu adalah pertemuan yang tidak resmi, tapi mengasumsikan bahwa itu resmi, karena pemerintah hadir dan pertemuan tersebut dilakukan di Kantor Gubernur. Kehati-hatian kami menjadi tidak terelakkan akibat pengalaman tersebut.

Pada hari ini kita berkumpul disini, ingatan kami kembali kepada Pak Gamal, dengan inisiatif dan keahliannya dalam mengatasi kesulitan proses mediasi IFC CAO di PT AP telah menghasilkan kemajuan, dan dia sangat disayang oleh komunitas dalam hati mereka karena komitmennya, niat baik, ketidakberpihakannya [kecuali terhadap keadilan dan pemulihan hak] walaupun kasus di PT AP sangat sulit. Bersamaan dengan meninggalnya Pak Gamal, proses mediasi IFC CAO di Jambi ini juga perlahan-lahan mati ditangan dua orang yang tidak punya kapasitas, tidak konsisten serta kemampuan yang cukup untuk mengkomunikasikan kepada para pihak, dan celakanya ini menggambarkan keseluruhan IFC CAO sebagai sebuah lembaga, dan hal ini menjadikan kami dan lembaga lain mempertanyakan secara serius tentang bagaimana informasi ini disampaikan oleh kedua orang ini kepada para pejabat senior di Washington DC terkait dengan keabsahan, objektifitas dan keseluruhan informasi. Kami sangat menyayangkan sebuah lembaga besar yang sangat penting seperti IFC CAO, yang mana memiliki mandat dan fungsi yang sungguh-sungguh kami hargai, telah digerogoti karena ketiadaan kapasitas dari staff dimana CAO menempatkan tanggungjawab yang sangat penting.

Kami mencatat ketika Gina Barbieri, Julia Galu, dan Suzana Rodrigues datang dari Washington, proses mediasi telah digambarkan sebagai proses yang terstruktur, terkomunikasikan dengan baik diawal kepada semua pihak, dan sangat jelas hasil serta tahapan berikutnya baik oleh masyarakat maupun para pengamat dari NGO. Kami mencatat bahwa contoh dari bagaimana pertemuan ini direncanakan, jika memang direncanakan, hanyalah satu dari sekian banyak pengalaman yang dilakukan oleh mediator CAO di Indonesia dimana mereka gagal mengkomunikasikan kepada para penandatangan keluhan dalam waktu yang seharusnya, jika memang semua, tentang agenda, tujuan, lokasi, tempat dan waktu dari pertemuan, dan menggambarkan secara gamblang kepasifan dari keterlibatan mereka yang hanya setengah hati dalam proses ini.

Kami juga memastikan kepada anda bahwa kami tidak datang kesini untuk memohon dan mendesak tindakan lebih lanjut dan keterlibatan IFC CAO dalam kasus PT AP, seperti surat dari Meg Taylor telah menjelaskan kepada kami bahwa tidak ada harapan untuk melanjutkan proses ini. Jika kedua orang ini tetap ditempatkan sebagai penanggungjawab dalam proses mediasi di PT AP ini meneruskan perannya, maka akan lebih kecil harapan untuk perbaikan dan perubahan. Mereka memang sangat berpegang teguh pada satu sisi, pada keengganan mereka untuk menerima dan berusaha untuk memperbaiki dan mengubah situasi ini. Tindakan mereka sangatlah memalukan kenangan atas Pak Gamal,  dimana masyarakat masih terus mengingatnya setiap kali seperti secercah harapan untuk mereka dalam melalui proses ini.

Bahwa tindakan dari mediator CAO di Indonesia dalam kasus PT AP, kami mempertanyakan alasan dan faktor apa saja yang membuat IFC CAO memilih untuk menggantikan posisi Pak Gamal dengan kedua orang ini dalam peran yang sangat krusial pada proses mediasi konflik yang berkepanjangan antara Komunitas SAD dengan PT AP, dan mencatat bahwa keputusan ini telah diambil oleh CAO tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan komunitas terdampak dan para penandatangan keluhan.

Tapi kami juga tidak melupakan pengalaman yang telah dibuat oleh mediator yang dipilih oleh IFC CAO dalam kasus PT AP, kami juga tidak akan membiarkan orang lain yang akan menggunakan mekanisme IFC CAO di Indonesia melupakan pengalaman ini, sama seperti komunitas lain yang mengalami dampak negatif dari perusahaan yang didanai IFC di Indonesia dan di tempat [negara] lain tidak mengalami penderitaan dan pengalaman yang\ sama seperti komunitas di PT AP karena ketidakmampuan individu.

Kami tidak akan membiarkan masyarakat jatuh seperti kalian, CAO, telah membiarkan mereka jatuh, kami akan meneruskan dan memfokuskan energi kami untuk mencari pemenuhan dan pemulihan hak mereka diluar mekanisme CAO.  Kami berterimakasih kepada Scott Adam atas perjalanan panjang dan melelahkan dari Washington DC ke Jambi dan kami mohon maaf untuk membatasi keterlibatan kami sebatas pernyataan sikap bersama ini. Tapi kami berharap bahwa pernyataan sikap kami ini akan memberikan sedikit pencerahan kepada kalian di Kantor IFC CAO di Washington DC, dimana kalian jauh dari kampung, dimana kalian jauh dari masyarakat, dimana kalian juga jauh dari realitas, bahwa orang yang bersalah termasuk orang yang seharusnya bertanggungjawab dan menyelesaikan tragedi yang terjadi disini.

Kami ingin mengakhiri dengan mencatat bahwa performa dari mediator yang dipilih oleh IFC CAO dalam kasus PT AP telah menempatkan kami, sebagai organisasi yang berkomitmen untuk mendukung masyarakat lokal dan masyarakat adat untuk mempertahankan dan melindungi hak mereka dalam posisi yang sangat sulit. Dimana kami semua menyadari bahwa kesalahan telah dilakukan oleh WILMAR dan PT AP, bahwa RSPO juga tidak mampu menangani persoalan ini secara cukup, dan bahwa IFC tetap mendanai WILMAR walaupun telah terjadi kejahatan terhadap Hak Azasi Manusia secara tersistematis dalam operasional perusahaan mereka, kami juga sekarang dipaksa untuk menyimpulkan bahwa tindakan dan kealpaan sebagai bagian dalam proses pemilihan mediator yang dilakukan secara sepihak oleh IFC CAO untuk meneruskan proses meidasi dalam kasus PT AP telah memainkan peran yang tidak dapat dipungkiri berkontribusi dalam kegagalan penyelesaian konflik yang terjadi di PT AP. Bahwa IFC CAO memiliki reputasi akan mendapatkan pengaruh yang sangat buruk sekali. Bahwa komunitas masyarakat yang meminta proses mediasi CAO ini diteruskan sangat disayangkan telah gagal. Tapi orang yang bertanggungjawab untuk proses mediasi konflik ini telah gagal seluruhnya dalam menunjukkan tanda-tanda perbaikan pada tindakan mereka baik dalam proses maupun isi walaupun tidak terhitung permintaan untuk dilakukannya perubahan secara konstruktif, hal ini tidak dapat dimaafkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *