Siaran Pers Bersama

 

Menuntut Profesionalisme POLRI dalam Kasus PTPN II Deli Serdang Sumut

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Sawit Watch, Elsam, Walhi, YLBHI, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan warga Desa Sei Mencirim dan Desa Namurube Julu, Deli Serdang mempertanyakan profesionalitas aparat Kepolisian Daerah Sumatera Utara dalam penanganan konflik tanah antara warga dengan PTPN II di Deli Serdang.

 

Konflik pertanahan yang sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu menyisakan derita pedih yang tak berkesudahan. Sejak konflik mengemuka hingga saat ini lebih dari 100 orang menjadi korban kekerasan. Termasuk 3 (tiga) orang yang pernah ditembak aparat kepolisian di tahun 1998 lalu.

 

Peristiwa terakhir adalah diculiknya 6 (enam) warga hingga berujung pada penahanan sewenang-wenang yang dilakukan oleh anggota kepolisian terhadap Zakaria (46), Arifin Keliat (63), Alpiyan, Jafaruddin (42), Sapriadi (32) dan Edi Polo (30).

 

Kami mensinyalir, penculikan dan penahanan sewenang-wenang ini merupakan buntut dari peristiwa  tanggal 19 April dan 22 Mei 2012, dimana 2 kali terjadi  bentrok antara warga dan PTPN II.  Saat itu pihak PTPN-II mendatangi lahan milik masyarakat Desa Sei Mencirim dan Desa Namurube Julu untuk melakukan okupasi lahan, melihat rombongan dari pihak PTPN-II masyarakat sekitar melakukan penghadangan terhadap rombongan tersebut.  Peristiwa  ini telah dilaporkan oleh warga tanggl 28 Mei 2012 ke Polsek Kutalimbaru, namun hingga saat ini laporan tersebut tidak pernah ditindaklanjuti oleh Kepolisian setempat.

 

Belakangan, aparat kepolisian malah cenderung agresif dengan melakukan penculikan (penangkapan diluar prosedur)  dan penahanan sewenang-wenang terhadap warga.  Alih-alih menindaklanjuti laporan masyarakat, yang terjadi justru sebaliknya, aparat kepolisian bertindak sebagai centeng perkebunan dengan melakukan berbagai tindakan intimidasi hingga kriminalisasi terhadap petani. Sampai saat ini pun tindakan teror terhadap masyarakat masih tetap berlangsung, seperti patroli dengan pasukan secara berlebihan pada jam-jam tertentu seperti layaknya medan perang.

 

Terkait dengan peristiwa tersebut kami menuntut kepada Kapolda Sumatra Utara untuk:

 

1.             Berhenti bersikap menjadi centeng perusahaan dalam penanganan konflik perkebunan termasuk hentikan tindakan teror, intimidasi, penculikan dan penahanan secara sewenang-wenang terhadap warga serta menarik pasukan yang berlebihan dilapangan.

2.             Menindak dengan tegas aparat kepolisian yang melakukan tindakan penculikan, penangkapan dan penahanan yang tidak sesuai dengan prosedur terhadap 6 (enam) orang warga tersebut.

3.             Memberikan akses seluas-luasnya bagi pemberi bantuan hukum untuk membantu warga yang saat ini ditahan oleh kepolisian.

4.             Bersikap adil dan tidak memihak perusahaan, dengan menindaklanjuti laporan warga ke Polsek Kutalimbaru pada tanggal 28 Mei 2012 dengan nomor laporan polisi: STPL/46/V/2012/Rest.Medan/Sek.Kutalim, terkait dengan penyerangan yang dilakukan oleh pihak PTPN-II tanggal 22 Mei 2012.

 

 

KRONOLOGIS PENAGKAPAN PETANI DELI SERDANG

 

NAMA

KRONOLOGIS PENAGKAPAN

ARIFIN KELIAT

(63 Tahun)

–        02 Juni 2012 2 (dua) orang yang mengaku sebagai anggota kepolisian (salah satunya bernama AKBP Andry Setiawan yang merupakan Kanit Polda Sumatra Utara) mendatangi lahan milik Arifi Keliat (korban), korban kemudian dibawah dengan alasan akan dimintai keterangan. Sebenarnya warga tidak mengizinkan selain itu aparat juga tidak membawa surat perintah baik itu surat perintah penagkapan atau penahanan, namun karna AKBP Setiawan berjanji tidak akan menahan, akhirnya warga mengizinkan.

–        Keesokan harinya tanggal 03 Juni 2012, korban tak kunjung kembali ke desa, setelah 1×24 jam warga akhirnya memutuskan untuk melaporkan hilangnya korban ke Kepala Desa dikarnakan pihak keluarga korban sudah mulai menghawatirkan keberadaan korban yang tidak ada kabarnya. Setelah disampaikan kepihak Kepala Desa bahwa yang membawa korban adalah Kanit dari Polda, Kepala Desa langsung menghubungi Polda, dimana Polda menginformasikan bahwa korban sudah ditahan di Polda Sumatra Utara. Mendengar kabar bahwa korban ditahan, Kepala Desa langsung menuju ke Polda, namun sesampainya di Polad, Kepala Desa tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan korban.

–        Selain Kepala Desa, pihak keluarga juga mencoba mendatangi Polda Sumatra Utara, namun pihak keluarga juga tidak diperbolehkan untuk menemui korban.

–        05 Juni 2012 pihak keluarga baru mendapatkan surat perintah penagkapan dari pihak kepolisian.

–        07 Juni 2012 sekitar pukul 11.00 pihak keluarga mendatangi kembali Polda Sumatra Utara untuk melihat kondisi korban, namun lagi-lagi aparat kepolisian melarang pihak keluarga untuk bertemu dengan korban.

JAFARUDIN

(42 Tahun)

–         Jafarudi (korban) dijemput oleh pasukan Brimob dan beberapa orang polisi yang berpakaian preman di rumahnya di Dusun I, Desa Stab, Kec. Kutalimbaru, Kab. Deli Serdang tanggal 06 Juni 2012 sekitar pukul 12.00.

–         Istri korban sempat menayakan kepada aparat kepolisian terkait dengan surat penagkapannya, namun hal itu tak digubris oleh aparat kepolisian.

–         Keesokan malamnya sekitar pukul 19.00 pihak keluarga baru mendapatkan surat perintah penagkapan dan penahanan.

EDO POLO

(30 Tahun)

–         Edo (korban) dijemput oleh orang-orang yang sama saat menagkap Jafarudin, korban dijemput ketika korban sedang berada di warung bensin eceran tanggal 06 Juni 2012 sekitar pukul 14.00.

–         Keesokan malamnya sekitar pukul 19.00 pihak keluarga baru mendapatkan surat printah penagkapan dan penahanan.

SAPRIADI

(32 Tahun)

–         Sapriadi (korban) dijemput oleh orang-orang yang sama saat menagkap Jafarudin, korban ditangkap pada saat korban sedang tidur, tanggal 06 Juni 2012 sekitar pukul 14.00.

ZAKARIA

(46 Tahun)

–         02 Juni 2012 sekitar pukul 17.00 Zakaria (korban) pamit kepada istri korban untuk pergi menghadiri undangan Kanit Polsek Kutalimbaru untuk datang ke rumah Wakapolda Sumatra Utara, istri korban sempat melarang karna takut korban akan ditangkap, namun akhirnya Zakaria tetap berangkat

–         Malam harinya istri korban mulai cemas karna korban tak kunjung kembali kerumah.

–         Keesokan harinya pihak keluarga baru mengetahui kalo Zakaria ditangkap setelah pihak kepolisian memberikan surat perintah penagkapan dan penahanan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *