SERATUS tahun perjalanan kebun sawit di Indonesia adalah riwayat yang layak ditengok. Adakah sawit telah memberi manfaat optimal bagi petani dan rakyat, khususnya kelompok masyarakat adat yang berumah di hutan? Mengapa di berbagai daerah justru muncul penolakan perkebunan emas hijau ini?
Mengapa kilau sawit meninggalkan trauma bagi banyak komunitas adat di hutan-hutan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua? Kasus Mesuji, contohnya, adalah letupan konflik yang telah lama ditimbun perkebunan sawit.

Lazimnya, buku mengenai sawit cenderung terbagi dalam dua kubu. Pertama, kubu pemerintah dan pengusaha yang semata menyuguhkan fakta ekonomi. Kedua, kubu LSM yang berfokus
pada sisi negatif. Buku ini, hasil kerja sama Sawit Watch dan Tempo Institute, mencoba hadir sebagai penyeimbang
kedua kubu tersebut. “Raja Limbung” juga mencoba mencari jawaban, mengapa berkah yang semestinya dibawa sawit sering kali tergelincir menjadi kutukan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *