Oknum TNI AL Lantamal II Teluk Bayur Dan Oknum Polisi Polres Pasaman Barat
Beeking PT. Anam Koto Merusak Pondok dan Tanaman Petani Penggarap

salam adil & lestari

Sederetan penderitaan kaum tani yang sedang memperjuangkan hak atas tanah, patut mengundang pertanyaan” apakah negeri ini hanya surga bagi kaum kapitalis, yang dengan mudah mempergunakan kelompok preman bersenjata untuk merusak dan menghancurkan ladang-ladang petani miskin.

penderitaan ini dirasakan oleh petani penggarap tanah negara terlantar bekas HGU PT. Anam Koto di Nagari Aia Gadang, Kecamatan Pasaman, Propisi Sumatera Barat,. paling tidak sepanjang tahun 2011 sampai dengan tahun 2012 ini sudah lebih kurang 1500 hektar ladang-ladang petani yang ditanami dengan tanaman jagung, semangka, ubi kayu, pisang dan kelapa sawit hancur di luluh lantak oleh buruh PT. Anam Koto. konflik pengelolaan tanah antara petani penggarap dengan manajemen baru PT. Anam Koto yang melibatkan militer dan kepolisiaan ini membuat trauma dan rasa takut para petani penggarap akan kejadiaan yang sama seperti dimasuji lampung dan atau ditempat-tempat lain di indoneseia, aksi kekerasan berujung jatuhnya korban.

upaya demi upaya sudah dilakuka oleh petani penggarap, sudah sederetan panjang cerita pertemuan demi pertemuan dilakukan oleh pengurus kelompok tani anak nagari rantau pasaman dimana tempat bernaungnya 1670 kepala keluarga petani penggarap, namun belum ada satu kebijakan pun yang dapat menjamin rasa aman para petani diatas tanah garapannya sampai saat sekarang. kalaupun BPN Sumatera barat telah melakukan proses penertipan tanah negara terlantar sesuai dengan ketentuan Pertuaran pemerintah No. 11 tahun 2010 yang sudah sampai pada menyampaikan peringatan I kepada Manajemen Baru PT . Anam Koto, tapi semuanya berhenti ditegah jalan hanya karena setumpuk laporan palsu dan mengada-ada yang disampaikan oleh PT. Anam Koto kepada BPN Sumatera Barat. Kakanwil BPN Sumatera Barat telah membuktikan langsung dilapangaan setelah 4 bulan laporan PT. Anam Koto disampaikan, seharusnya HGU tersebut sudah ditetapkan menjadi tanah negara terlantar pada tahun 2006 lalu, karena PT. Anam Koto telah membiyarkan HGUnya kembali menjadi hutan semenjak tahun 1999 sampai tahun 2006.

kelalaiaan institusi pemerintah yang dipercaya untuk mengurus soal pertanahan, kini berubah menjadi penderitan bagi petani penggarpnya, harapan untuk mendapatkan hak pengelolaan atas tanah negara terlantar kini berujung dengan tindakan kekerasan dan intimidasi oleh oknum TNI dan Polisi. hari ini tidak ada lagi upaya yang dapat dilakukan oleh petani, kecuali meminta kesemua pihak yakni BPN Propinsi Sumatera Barat, BPN Pusat dan Menteri Pertanian mencabut HGU PT. Anam Koto dan kepada teman-teman pemerhati rakyat yang tertindas ( NGOs dan KOMNAS HAM ) agar dapat mendesak TNI AL dan Polisi Polres Pasaman Barat untuk keluar dari ladang-ladang petani dan menghentikan segalabentuk tindakan pelangaran ham dan tindakan diskriminasi penegakan hukum

inilah rintihan serta harapan petani Penggarap tanah negara terlantar di bekas HGU PT. Anam Koto, semoga dukungan dan partisipasi semuanya dapat mengujudkan cita-cita 1.670 kepala keluarga yang bernaung dibawah kelompok tani anak nagari rantau pasaman

wasalam
Kelompok Tani Anak Nagari Rantau Pasaman

YUNASRIl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Anti-spam image