‘Jelas sekali perbedaannya, buruh kebun sawit yang sudah tiga empat generasi semisal di Sumatera Utara dengan buruh kebun yang baru saja semisal di kalimantan. Kebanyakan meraka adalah masyarakat adat/lokal yang mempunyai hubungan erat dengan tanah. Saya melihatnya buruh-buruh kebun ini mempunyai karakteristik masing-masing, karakter komoditas yang ditanam, dan karakter lokasi sangat berpengaruh’ demikian ungkap Fatilda, Sawit Watch dalam diskusi berkenaan “Tantangan Pengorganisasian Gerakan Buruh Pada Sektor Perkebunan” di Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) dan Sawit Watch pada tanggal Sabtu, 14 Januari 2012 bertempat di Kantor LIPS dengan peserta berbagai serikat buruh dan ornop yang konsens di sektor buruh.
Paska tumbangnya rezim Soeharto, gerakan buruh di Indonesia memasuki fase kebebasan berserikat. Pemberlakuan kebijakan serikat buruh tunggal dengan munculnya UU Kebebasan Berserikat lewat UU  No 21 Tahun 2000, otomatis tidak berlaku lagi. Sejak itu muncul perpecahan secara terbuka di tubuh SPSI (Serikat Pekerja Indonesia), yang melahirkan beberapa serikat baru eks-SPSI. Di luar itu lahir juga banyak serikat buruh yang tidak memiliki kaitan sejarah sama sekali dengan SPSI (non-SPSI). Paska jatuhnya Rezim Soeharto, dari 85 federasi serikat buruh dapat dikatakan terdapat tiga tipologi serikat buruh di Indonesia: SPSI, eks-SPSI, dan non SPSI, yang tersebar di berbagai sektor industri.

Dinamika serikat buruh di Indonesia menjadi semakin ramai dengan serikat buruh-serikat buruh baru yang (walaupun sebagian kecil) kian progresif. Namun sampai saat ini, gerakan buruh masih menyisakan beberapa persoalan, baik dalam konteks eksternal (relasi buruh dengan negara dan pasar), bahwa kemajuan dan perubahan tersebut cenderung terkonsentrasi pada gerakan serikat buruh di sektor manufaktur (atau sektor non perkebunan). Ketika terjadi kemunculan banyak serikat buruh di sektor non-perkebunan –termasuk yang merupakan produk dari perpecahan SPSI, pada sektor perkebunan hal serupa nyaris tidak terjadi. Kenyataannya, serikat buruh di sektor perkebunan swasta masih sangat didominasi oleh SP (Serujat Pekerja Seluruh Idonesia), dan perkebunan negara (PTPN) masih didominasi oleh SP BUN (Serikat Buruh Perkebunan), yang masih menganut budaya Serikat Buruh Orde Baru, dan pengurusnya masih dari kalangan petinggi perkebunan. Kedua Serikat Buruh ini juga tidak tidak memiliki afiliasi dengan Serikat Buruh BUMN yang mengalami banyak proses tranformasi.

Gambaran ini menunjukkan gerakan buruh di sektor perkebunan masih mengalami stagnasi, berjalan di tempat dimana rezim serikat buruh lama masih tetap mapan, dan nyaris tidak terpengaruh oleh gelombang perpecahan dan kebebasan berserikat. Jikalau muncul serikat buruh perkebunan di luar  SPSI dan SPBUN , sifatnya masih sangat lokal. Abu Mufakhir, LIPS menyatakan “Bagaimana menghubungkan buruh di manufaktur (pabrik sabun, pabrik minyak goreng) dengan buruh di kebun (relasi value chain, hulu sampai hilir) hal inilah yang perlu dipikirkan ke depan sebagai salah satu cara memajukan gerakan buruh sampai di Perkebunan”.
Diskusi ini menyimpulkan secara sementara bahwa terjadi kesenjangan antara dinamika gerakan buruh di sektor perkebunan dan sektor non perkebunan. Ada relasi yang putus antara serikat buruh-serikat buruh yang tumbuh di sektor non perkebunan dengan keberadaan serikat buruh sektor perkebunan, mencerminkan proses restrukturisasi gerakan buruh yang belum menyentuh sektor perkebunan.

Comments

  1. Koreksi bos Kayanya peryemuannta tgl 2 Juli 2011 utk persiapan CCD#2 . dan kalau itung koin semua pada suka nih sumringah semua tuh hehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *