(Investigasi terhadap Buruh PT Tapian Nadenggan, Kutai Timur Kalimantan Timur)

Gemericik Dolar dan Impian Indah dibalik Kemilau Minyak Sawit
Pada akhir tahun 2007, Indonesia mencatatkan diri sebagai penghasil minyak sawit mentah (crude palm oil/ cpo) terbesar di dunia, dengan total produksi 17,2 juta ton dari kebun sawit seluas 7,3 juta hektar. Jumlah itu jauh mengungguli Malaysia yang dalam dua dekade terakhir mendominasi pasar minyak sawit. Di tahun lalu, Malaysia hanya mampu memproduksi 15,9 juta ton cpo.

Dari jumlah total produksi minyak sawit mentah Indonesia, diperkirakan 5 juta ton digunakan untuk konsumsi dalam negeri dan sisanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional dengan tujuan negara ekspor ke negara China (24,6%), India (17,6%) dan benua Eropa (10,6%). Apabila saat ini harga minyak sawit mentah dunia telah menembus angka 1.100 dolar AS/ ton (bandingkan dengan harga tengah tahun 2007 yang hanya 700 dolar AS/ ton), bisa hitung berapa besar pendapatan pemerintah lewat pajak dan penghasilan pengusaha sawit dari booming harga cpo tersebut.

Meroketnya harga minyak sawit dunia dipicu oleh beberapa faktor, antara lain; semakin langka ditemukannya sumur minyak bumi yang berasal dari fosil berdampak pada kenaikan harga minyak mentah yang mencapai 110 dolar AS/ barel. Keadaan itu membuat kalangan ilmuwan dan dunia industri memutar otak untuk menciptakan bahan bakar alternatif yang lebih murah dan ramah lingkungan yang berasal dari beraneka tanaman, salah satunya adalah minyak kelapa sawit yang diubah menjadi biofuels.

Penemuan baru berupa biofuels tentu saja sangat menggembirakan negara-negara produsen minyak sawit karena pasar dunia semakin terbuka lebar, berarti hujan duit akan segera tiba bagi negara penghasil cpo. Dugaan tersebut semakin nyata ketika pengamat ekonomi dan kalangan akademisi memperkirakan sampai 30 tahun ke depan permintaan minyak sawit dunia akan semakin berlipat ganda.

Melihat tren positif pasar, para pemilik modal dari kelas kakap sampai teri, mulai berinvestasi di sektor perkebunan sawit. Bahkan pengusaha minya bumi sampai pabrik rokok pun beramai-ramai mengkonversi atau diversifikasi usahanya ke kebun sawit. Pemerintah sepertinya mempermudah perijinan dan membuat seperangkat keputusan bagi mendukung pembangunan kebun sawit dalam skala massif di Indonesia.

Bagi pemerintah, pembukaan kebun sawit secara besar-besaran dengan target 20 juta hektar pada tahun 2020 berarti dari Sabang sampai Merauke berjajar kebun sawit yang memberikan pendapatan negara berupa pajak dalam jumlah besar, menampung jutaan tenaga kerja dengan asumsi 1 ha kebun sawit akan mempekerjakan 4 orang buruh dan tentu saja perkebunan sawit membantu pemerintah dalam membangun infrastruktur terutama jalan bagi kepentingan umum.

Namun gemericik dolar dan impian indah di balik kemilau minyak sawit ternyata menyisakan banyak persoalan. Ibarat endapan minyak sawit hasil penggorengan bahan makanan. Dampak yang paling terlihat nyata adalah merosotnya kwalitas lingkungan akibat ekspansi kebun sawit. Sumatra dan Kalimantan kini menjadi kolam bebek yang rawan banjir bila musim penghujan tiba. Selain itu, konflik lahan yang semakin terbuka dengan jumlah yang meningkat antara masyarakat adat/ penduduk lokal dengan perusahaan perkebunan sawit.

Juga nasib buruh di kebun sawit yang tak kunjung sejahtera alias tetap menderita meski jumlah produksi tandan buah sawit hasil kerja kerasnya meningkat diimbangi dengan harga pasar minyak sawit mentah yang semakin membumbung tinggi. Ancaman pemecatan kerap menghantui kehidupan kaum buruh. Selain itu status buruh harian lepas yang mesti menyediakan alat-alat kerja sendiri agar bisa bekerja, tak kunjung berubah menjadi Pekerja Harian Tetap apalagi jadi staf perkebunan.

Derita itu belum berhenti. Di kala mengalami keracunan dan sakit, para buruh mesti mengeluarkan biaya sendiri dan berhenti bekerja sampai dia sembuh. Tentu saja tanpa penggantian pengobatan apalagi upah harian yang dibayarkan. Para buruh masih tetap dan butuh pekerjaan. Mereka melakukannya karena tidak punya pilihan lain. Meski menderita memburuh tetap dijalani, bukan untuk membangun hari besok, tapi buat hidup di hari ini saja.

Alasan Bekerja di Kebun Sawit

Dari 14 orang buruh yang diwawancarai SW, 10 perempuan memberikan alasan bekerja kebun sawit karena ingin membantu penghasilan suami yang sangat minim akibat hutan dan ladang mereka telah dikonversi jadi kebun sawit. Keadaan itu membuat banyak suami mereka mesti pergi merantau mencari pekerjaan di tempat lain demi menghidupi anak-istrinya.

”Suami saya terpaksa kerja kayu di hutan, di kabupaten Kutai Barat, karena di sini tak ada lagi pekerjaan untuknya. Dia dulu tukang potong kayu untuk membangun rumah, tapi sekarang kayu sudah tak ada. Terpaksa dia pergilan ke kampung orang untuk potong kayu dan bangun rumah di kutai barat sana. Paling dia bisa pulang sebulan sekali. Itupun uang yang dia bawa sangat kecil jumlahnya. Tak cukup buat makan sebulan. Untuk membantu dia menghidupi anak-anaklah maka saya mau bekerja di kebun sawit.”(Ibu 37 tahun, buruh harian lepas).

Buruh laki-laki memberikan alasan bekerja di kebun sawit karena sudah kehilangan tanah sementara kebun plasma yang dijanjikan tak kunjung diwujudkan. Dalam penantian menjadi petani plasma, kaum adam ini ditawari pihak perusahaan menjadi pengawas lapangan sekaligus juga menjinakkan tuntutan masyarakat akan kebun plasma yang selalu dijanjikan pihak perusahaan.

”Awalnya saya hanyalah petani ladang, sebelum perusahaan mengambil tanah kami untuk dijadikan kebun sawit. Setelah ladang tak ada lagi, saya menuntut plasma bersama beberapa orang kawan. Karena sering menuntut plasma, asisten manager kebun menawarkan saya menjadi pengawas penyemprot dengan haji Rp 760.000,-/ bulan. Katanya, sambil menunggu kebun plasma saya dibuatkan. Juga dijanjikan kalau sudah dapat kebun plasma, saya masih bisa bekerja menjadi mandor. Jadi ada banyaklah penghasilan saya. Tapi sudah bertahun-tahun saya menunggu kebun plasma yang dijanjikan, ternyata belum ada juga. Entahlah sampai kapan ya? ”(Bapak 37 tahun, mandor semprot)

Proses Menjadi Buruh di Kebun Sawit

Apabila dikelompokkan, ada dua prosedur yang menjadikan penduduk desa Nehas Liah Bing menjadi buruh di kebun sawit, yaitu:

Empat orang ditawari oleh pihak perusahaan dengan menandatangani kontrak kerja (Surat Keterangan Upah harian Tetap/ SKUPT). Biasanya orang-orang yang ditawari SKUPT oleh PT Tapian Nadenggan berdasarkan lama bekerja dan mempunyai hubungan kekerabatan dengan para elit desa, seperti kepala desa, kepala dusun dan ketua adat.

”Kami adalah buruh tetap karena pernah ditawari kontrak kerja. Sudah lama kami bekerja dan sangat terikat dengan perusahaan. Tetapi kami merasakan beberapa kejanggalan. Misalnya, kalau kami tidak bekerja, gaji kami tetap di potong walaupun kami telah meminta ijin. Begitupun halnya, jika ada keluarga kami meninggal, otomatis kami tidak bisa masuk kerja. Gaji juga tetap dipotong. Begitu pun halnya beras yang diberikan oleh perusahaan kepada kami untuk satu bulan sebanyak 15 kg. jika tidak bekerja satu hari maka beras kami dipotong 1 kg. saya juga pernah sakit (infus-opname) di rumah sakit. Total biayanya Rp. 240.000, namun kami tanggung sendiri. Kami sakit karena pekerjaan sebagai penyemprot yang sehari-hari menggunakan racun pestisida. Tidak ada sedikitpun tanggungjawab dari perusahaan. Perusahaan mengakui, kami akan menanggung biaya jika ada buruh tertusuk kayu ketika sedang bekerja.” (Ibu 47 tahun, buruh SKUPT)

Sepuluh penduduk diajak bekerja oleh Mandor lapangan yang juga tetangga atau kerabat dari buruh. Biasanya orang yang diajak bekerja oleh mandor tidak mempunyai surat kesepakatan kerja dengan pihak perusahaan, jadi dikategorikan sebagai buruh harian lepas.

”untuk 1 orang mandor lapangan mengepalai 12 orang buruh. Jika ada kekurangan buruh maka mandor tersebut mencarinya kekampung-kampung. Kebetulan mandor kami adalah orang kampung kami juga, dia gampang mencarinya dikampung ini. Cara ini tidak baik, karena membuat kami sebagai buruh tidak berhubungan langsung dengan perusahaan dan cara ini justru membuat permusuhan antara sesame kami sendiri dengan mandor dan membuat perusahaan lepas tanggungjawab.”(Ibu 39 tahun, buruh harian lepas).

Lama Bekerja di Kebun Sawit

Ke-14 buruh yang diwawancarai di lapangan, semuanya mengaku telah bekerja di kebun sawit lebih dari 5 tahun. Bahkan ada 2 orang perempuan telah bekerja sejak masuknya perusahaan sawit ke desa mereka tahun 1998. Namun sampai saat ini tak ada perubahan nasib yang berarti.

”Saya telah 7 tahun bekerja menjadi kepala mandor di kebun sawit ini. Tapi semakin hari hidup saya semakin susah, rasanya tak akan pernah bisa mencukupi kebutuhan hidup. Tak mungkin sejahteralah. Saya mandor resmi dengan dua strip di pundah baju kerja. Gaji Rp 970.000,-/ bulan. Anak 3 dengan istri 1 yang bekerja jadi SKUPT. Kalau Lembur saya bisa mendapatkan Rp 1,1 – 1,2 juta. Tapi harga minyak goreng saja sudah Rp 16.000/ liter di sini. Beras dan lauk mesti beli. Apa masih bisa bikin anak kami sekolah? Kalau saja bisa, lebih baik jadi hutan saja lagi desa Nehas ini. Kami tak perlu beli apa-apa. Kami rasa lebih kaya waktu dulu”

(Bapak 42 tahun, buruh SKUPTr)

Jenis Pekerjaan yang Dilakukan Buruh di Kebun Sawit

1. Buruh Penyemprot

Dalam klaim perusahaan, buruh penyemprot dianggap berdiri di garda depan dan selalu mendapat perhatian utama perusahaan sawit, karena pekerjaan utama buruh penyemprot ini adalah meningkatkan kualitas kebun dan produktifitas tanaman. Buruh Penyemprot ini sangat akrab dengan bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia, seperti pestisida.

Biasanya buruh penyemprot bekerja berkelompok dan diawasi oleh seorang mandor. Setiap kelompok terdiri dari 12 orang dengan fungsi sebagai berikut; seorang buruh bertugas memasukkan racun sebanyak 120 cc (biasanya pestisida dengan merek round up dan rambo) ke dalam tabung semprotan (tanki), lalu mencampurkan air ke dalam tanki sebanyak 12 liter. Seorang buruh lainnya bertugas mengangkat tanki ke bahu 10 buruh penyemprot lainnya. Kemudian para buruh tersebut akan menyemrotkan racun tersebut ke rerumputan dan ilalang juga rumpukan kayu yang dianggap menghambat pertumbuhan tanaman sawit.

Buruh semprot tidak dibatasi jam kerjanya, melainkan harus menghabiskan 12 tanki air bercampur racun dalam sehari. Dari 14 buruh yang ditanyai SW, semua buruh perempuan (10 orang) pernah bekerja sebanyai tenaga penyemprot. Hingga saat ini masih ada 6 buruh perempuan yang bekerja sebagai penyemprot.

”Kami sudah tua, tapi harus memanggul tanki seberat 12 atau 15 liter air bercampur raound up. Tergantung ukuran berat tanki yang kami punya. Setiap hari kami diharuskan menghabiskan 12 tanki racun untuk disemprotkan ke tanaman sawit, tanpa pernah menghitung jam kerja. Biasanya lebih dari 7 jam per hari waktu kerja kami dengan sistem target itu. Tahun lalu (2007) kami dibayar Rp 32.400/ hari tapi 5 hari kerja dalam seminggu. Tahun 2008 kami memang naik gaji menjadi Rp 34.000/ hari tapi hanya 4 hari kerja dalam seminggu. Sebenarnya tak ada kenaikan gaji, tapi pemotongan gaji yang buat kami jumlahnya sangat besar. Memang gaji diberikan setiap 16 hari. Tapi jumlahnya tetap berkurang, kan? Dan belum tentu juga kami kuat bekerja setiap bulan selama 16 hari. Itulah nasib kami.” (Ibu 30 tahun, buruh harian lepas)

”Saya pernah mengalami keracunan saat menyemprot. Tubuh saya tiba-tiba lemas, mata berair, berkeringat, mual dan muntah-muntah. Waktu itu saya hanya diberi minum susu kental segelas, lalu disuruh istirahat. Sesampai di rumah, saya merasa tak berdaya. Lalu dibawa suami ke rumah sakit dan mesti opname selama dua hari. Biaya perawatan sebesar Rp 240.000 mesti dibayar sendiri. Perusahaan sama sekali tidak bertanggung jawab dengan kesehatan kami, buruh yang bekerja di kebunnya. Padahal saya buruh SKUPT.”(Ibu 32 tahun, buruh SKUPT)

”Jangankan untuk biaya kesehatan. Perlengkapan kerja saja demi melindungi kesehatan kami tak dipedulikan pihak perusahaan. Kami hanya dikasih sarung tangan seharga Rp 4.000. itupun hanya satu dan sekali saja. Kalau barang itu rusak, kami harus membeli sendiri. Tapi kebanyakan dari kami memilih tidak usah pake sarung tangan karena sayang uang sebesar itu terbuang percuma. Biarlah kami tahankan bekerja dengan bertelanjang tangan.” (Ibu 35 tahun, buruh harian lepas).

”Sarung tangan saja pihak perusahaan tidak mau memberikannya, mana mungkin mereka itu mau menyediakan masker, baju plastik dan sepatu boot? Untuk bisa bekerja jadi buruh semprot, kami mesti membeli sendiri tanki dari toko seharga Rp 250-300 ribu. Kata asisten manajer kebun, kalau mau kerja ya beli tanki sendiri. Tanki milik perusahaan hanya diperuntukkan bagi buruh SKUPT.”

(Ibu 30 tahun, buruh harian lepas).

”Setia hari mulai dari pagi bekerja sampai matahari terbenam, saya mesti memakai kaca mata hitam. Bukan mau bergaya-gaya, tapi karena mata saya selalu berair (iritasi) dan setiap melihat sinar terang rasanya perih sekali. Sampai saat ini saya sudah 6 tahun bekerja di kebun sawit dan telah 2 tahun lebih memakai kaca mata hitam karena saya yakin, ini akibat dari uap racun yang saya semprot membuat mata saya jadi terus-menerus berair. Kami tak pernah diberitahu dampak racun yang kami gunakan. Bahkan mandor yang mengawasi kami bekerja pun tak pernah mau tahu itu racun apa.”

(Ibu 37 tahun, buruh harian lepas).

”Kalau sakit ringan, belum pingsan, biasanya kami hanya membeli obat sembarangan di warung. Rasa mual, pusing, mata berair dan muntah sering kami alami. Tapi tak berani ke dokter karena takut biayanya mahal. Kami sudah senang dikasih minum susu kental segelas per hari saat istirahat sebentar, karena kami anggap itu obat. Tahun lalu tak ada susu buat kami, tapi diganti dengan uang sebesar Rp 900 per hari. Kalau bisa memilih, kami mau uangnya saja…”

(Ibu 38 tahun, buruh harian lepas).

2. Buruh Pemupukan

Buruh pemupukan bekerja sejak jam 07.00-14.30 dengan waktu istirahat siang selama 30 menit. Sama seperti buruh lainnya, kehidupan dimulai pukul 04.30 untuk mempersiapkan pekerjaan rumah tangga dan alat-alat kerja. Pukul 05.30 para buruh ini menunggu truk angkutan yang membawa mereka ke lokasi kebun PT TAPIAN NADENGGAN. Truk yang digunakan untuk mengangkut buruh biasanya bekas mengangkut sapi yang masih penuh dengan kotoran dan berbau.

Awalnya para buruh sering meminta penggantian truk yang lebih manusiawi. Namun permohonan itu tak pernah dihiraukan, justru pihak perkebunan meminta para buruh bersyukur karena para buruh telah diberikan angkutan gratis.

”Pernah suatu hari, dalam truk itu masih ada kotoran sapinya. Namun kami tidak menghiraukan itu, yang terpenting ada truk pengangkut. Kami pernah meminta agar truk itu harus dilengkapi dengan kursinya. Namun hingga saat ini juga belum ada tindaklanjut, alasannya tidak ada mobil khusus pengangkut karyawan. Setiap hari kami selalu naik truk pengangkut sapi itu”(Ibu 42 tahun, buruh SKUPT)

Buruh pemupukan ini bekerja berkelompok, satu kelompok terdiri dari 12 pekerja untuk memupuk tanaman 32 ha kebun sawit selama 7 jam kerja. Jenis pupuk yang dipakai biasanya Urea, TSP, KCl. Banyaknya pupuk yang ditaburkan ke tanaman sawit disesuaikan dengan kondisi tanah dan usia tanaman, dimana pemakaian besaran pupuk berbahan kimia tersebut diawasi secara ketat oleh mandor agar tidak serampangan ditabur oleh para buruh.

SW sempat mendapat cerita seorang perempuan dari dua orang yang bekerja sebagai buruh pemupukan di kebun sawit.

”Nasib kami sama saja dengan buruh semprot. Bekerja tanpa menggunakan sarung tangan, masker dan sepatu booth. Gajinya juga sama. Hanya alat kerja saja yang beda, kami menggunakan karung sebagai tempat penampungan pupuk. Lalu menaburkannya ke tanaman sawit dengan tangan yang tak terlindungi alat pengaman.”

(Ibu 41 tahun, buruh SKUPT).

3. Buruh Dongkel.

Pekerjaan buruh dongkel adalah mengumpulkan kayu-kayu atau anak-anak kayu dan mehancurkan akar-akar kayu. Pekerjaan mereka biasanya dalam tahap awal pembangunan kebun, membersihkan lahan untuk persiapan penggalian lubang tanam. Enam buruh yang diwawancarai SW 12 pekerja pernah menjadi buruh dongkel.

Saya pernah menjadi buruh Dongkel. Pekerjaannya memang tidak punya target apa-apa yang diberikan oleh perusahaan. Alasannya karena pekerjaannya terlalu berat dengan membersihkan kayu hingga ke akar-akarnya serta menumpuknya ke satu tempat, dan kami terus diawasi. Namun yang kami sesalkan, kami tidak diberikan alat dongkel oleh perusahaan dan kami harus bawa sendiri. (Bapak 38 Tahun, buruh harian lepas).

4. Buruh nebas

Mereka bekerja untuk menebas anak-anak kayu. Mereka menggunakan alat sendiri seperti parang yang dibawa dari rumah karena Perusahaan tidak menyediakan alat nebas. Jam kerja mereka rata-rata sama dengan buruh lainnya.

”sebagian dari buruh nebas adalah anak-anak. Umur mereka sekitar 15 tahun. Perusahaan tapian tidak memiliki standar usia dalam penerimaan buruh. Rata-rata pekerja anak, membersihkan anak-anak kayu dan bercampur dengan yang dewasa. Mereka bekerja tetap diperusahaan ini untuk anak-anak yang putus sekolah dan jika hari libur besar seperti hari libur sekolah atau hari raya agama “libur panjang” banyak anak-anak sekolah yang berprofesi sebagai buruh nebas. Upah buruh anak sama dengan buruh dewasa begitu pun halnya jam kerja. Mereka harus bersama buruh dewasa berangkat dan pulang kerja” (Ibu 37 Tahun; mantan buruh nebas).

5. Buruh klerat

Buruh klerat biasanya untuk memasang obat untuk mematikan tikus yang sering hinggap di pohon sawit. Kerja-kerja mereka biasanya memasang obat di masing-masing pohon sawit dan melakukan pengecekan langsung ke masing-masing pokok sawit.

6. Buruh Panen

Biasanya bekerja selama 8 hari dalam sebulan, saat musim panen saja. Upah buruh panen sama saja dengan buruh dengan pekerjaan lain. Alat-alat kerja yang digunakan juga milik sendiri, karena pihak perusahaan tidak menyediakannya untuk pekerja harian lepas.

7. Buruh Mipping

Buruh mipping juga sama dengan buruh penyemprot yang seringkali akrab dengan pestisida. Namun cara kerja mereka berbeda dengan buruh penyemprot. jika buruh penyemprot menggunakan tankki sebagai alat Bantu, maka lain halnya dengan buruh mipping. Cara kerja buruh mipping, mencelupkan tangannya bisa dengan atau tanpa menggunakan kaus tangan, tergantung kemampuan membeli sarung tangan oleh buruh, ke dalam racun yang sudah bercampur dengan air. Kemudia dioleskan pada ilalang yang tumbuh diantara kacangan, yang memang sengaja dipelihara yang berfungsi menjaga kelembapan (keasaman) dan kesuburan tanah.

Dua belas buruh yang ditemui SW mengaku pernah bekerja sebagai buruh mipping.

”Saya Pernah menjalankan pekerjaan ini. Waktu itu, kami dijelaskan oleh mandor lapangan bahwa pekerjaannya seperti ini ; dengan mencelupkan tangan ke dalam racun yang sudah bercampur air, lalu oleskan di alang-alang dalam kacangan. Kami menjalankan saja pekerjaan itu dan kami tidak memikirkan apa-apa. Tetapi yang kami rasakan dan alami saat itu adalah tangan kebiru-biruan dan kuku tangan yang putih, kami juga tidak pernah kedokter atau ada bantuan medis dari klinik perusahaan, begitu saja dan tidak diperhatikan”; (Ibau 39 Tahun, buruh harian lepas)

STATUS BURUH YANG SELALU TERANCAM

Pekerjaan para buruh di lokasi kerja selalu diwarnai oleh ancaman dari perusahaan. Baik buruh harian lepas maupun buruh tetap, seringkali mendapat tindakan diskriminasi terhadap suku lokal dan ancaman pemecatan.

“kami pernah dibilang oleh perusahaan disaat kami kerja; kamu kerja baik-baik kalau tidak kami pecat dan kamu akan kami gantikan dengan orang jawa. Perkataan mereka itu, suka membandingkan suku kami dengan suku-suku lainnya. Dan yang tidak menyenangkan lagi adalah kami diancam pecat. Kami memang sering takut kalau tidak masuk kerja dengan selalu berpikiran akan dipecat atau digantikan oleh orang lain; (Ibu 47 thn buruh SKUPT)..

Buruh saat ini, tidak lagi menggampangkan pekerjaannya, semuanya dianggap pekerjaan berat dan penuh resiko. Ketika diawal memulai profesi mereka, selalu melihat pekerjaan itu adalah mudah, misalnya buruh penyemprot yang pernah berkata “hanya semprot saja”. Mereka tidak pernah memikirkan dampak atau akibat dari kerja mereka. Begitu halnya resiko yang mereka alami ketika buruh penyemprot jatuh dari rumpukan kayu, lalu pingsan. Hal yang tidak terfikirkan oleh buruh adalah, tidak adanya tindakan cepat tanggap untuk masalah-masalah itu dari “big boss” pihak perusahaan. Semuanya dianggap biasa dan harus ditanggung oleh buruh sendiri.

Mereka sudah memberikan hal yang terbaik untuk perkebunan sawit yang dimiliki oleh segelintir orang dinegri ini. Mereka telah membantu untuk meningkatkan produktifitas tanaman dengan membersihkan alang-alang, memberi pupuk, menebas anak-anak kayu, membantu membuat piringan hingga kebun itu sesuai dengan standar teknis perusahaan. Buruh tentunya telah memberikan “nilai lebih” untuk perusahaan dan mereka menikmati keuntungannya.

Dari semua derita, pekerjaan berat yang dialami buruh di nehas, tidak memiliki imbalan yang setimpal dari “nilai lebih” yang diberikan buruh. Faktanya, buruh tidak terlayani dengan baik dengan tidak adanya tanggungjawab dari perusahaan untuk berbagai masalah yang dialami buruh. Belum lagi dengan masalah gaji yang diberikan yang selalu dipotong-potong jika buruh tidak masuk kerja walupun memiliki ijin.

“kami merasa rugi ditahun 2008 karena ada perubahan waktu kerja. Pada tahun 2007 kemarin, kami bekerja 5 hari dalam seminggu. Pada tahun 2008 ini kami ditetapkan hanya bekerja 4 hari kerja dalam seminggu. Memang gaji kami naik dari Rp 32.400 pada tahun 2007 dan naik pada tahun 2008 sebesar Rp. 34.400. tetapi ini tidak ada gunanya karena dipotong 4 hari kerja dalam satu bulan” (Ibu 37 thn, buruh harian lepas).

Hal yang sama juga terjadi diburuh tetap untuk persoalan upah.

“gaji untuk satu bulan sebesar Rp. 810.000 tidak pernah diterima total. Saya selama bekerja hanya mendapatkan Rp.600.000. ini dikarena tidak masuk kerja walaupun ada ijinnya” ( Ibu 41 thn, buruh SKUPT)

Dengan pekerjaan yang mereka jalankan setiap harinya, justru tidak membawa perubahan ekonomi dikeluarga mereka. Dengan kondisi ekonomi saat ini dengan harga sembako yang selalu naik setiap tahunnya. Pendapatan mereka dari upah harian/bulanan justru hanya sebagai penutup kekurangan pendapatan suami. Dengan pekerjaan mereka itu juga, pengeluaran mereka dibebani oleh biaya kesehatan dan pendidikan anaknya.

Hal Yang sama juga dialami oleh buruh tetap. Walaupun seorang perempuan berstatus buruh harian lepas mengaku bahwa klinik yang disediakan oleh perusahaan untuk buruh tetap, seorang pekerja SKUPT (buruh tetap) berusia 47 tahun menimpali bahwa dia tidak pernah dilayani diklinik karena jarang ada paramedis bertugas di sana.

Bahkan ibu tersebut menceritakan pengalamannya ketika sakit yang mengharuskannnya mesti diinfus dan dirawat inap di rumah sakit. Dengan wajah sendu, dia berujar lirih bahwa tidak ada bantuan dari perusahaan baik dalam bentuk uang maupun obat.

Hal yang sama juga dirasakan oleh buruh-buruh lainnya ketika kecelakaan di saat kerja. Ibu 39 thn buruh harian lepas pernah kecelakaan disaat kerja.

“saya pernah kecelakaan disaat kerja. Waktu itu, saya sedang menyemprot diatas rumpukan kayu untuk menghancurkan kayu itu dengan racun. Namun saya jatuh dari atas rumpukan kayu karena tergelincir. Pada saat itu saya ditimpa kayu-kayu dan saya pingsan. Yang Bantu saya malahan kawan kerja saya dan kawan-kawan saya membawaku pulang. Dalam hal ini, tidak ada pertolongan yang diberikan oleh perusahaan kepada saya. Obat-obat, bantuan dari klinik atau bantuan mobil untuk membawa aku pulang. Yang membantu saya justru kawan-kawan saya sendiri”.

Persoalan Gender di Kebun Sawit

Selain persoalan upah, buruh perempuan juga merasa kurang diperhatikan atau kurang dihargai dalam perusahaan ini.

Perusahaan pernah bilang kepada kami, kelebihan perusahaan grup kami adalah tidak memposisikan perempuan sebagai mandor atau asisten. Mulai dari perkataan seperti itu, saya sudah tidak lagi bermimpi atau berusaha untuk menjadi yang terbaik dan kukuburkan mimpi itu. Walaupun kaum perempuan berprestasi, tetap tidak akan dihargai. Di rubah status saja dari buruh harian lepas ke buruh tetap saja tidak, apalagi kami mendapatkan posisi mandor lapangan. Kami perempuan seringkali diremehkan dan seolah-olah kami tidak bisa bekerja apa-apa. Sehingga kami kadang-kadang tidak memiliki motifasi untuk bekerja, karena tidak ada informasi untuk merubah status kami sebagai buruh lepas atau direkrut jadi mandor atau asisten.(Ibu 30 tahun, buruh harian lepas)

PERJUANGAN BURUH DEMI MEPERBAIKI NASIBNYA

Pada pertengahan 2007, melalui SBSI (Serikat Buruh Seluruh Indonesia) Kalimantan Timur, buruh PT Tapian Nadenggan mengadukan kelakuan pihak perusahaan ke pemerintah daerah melalui dinas tenaga kerja dan asisten satu bupati. Persoalan yang dibahas adalah status buruh harian lepas agar segera diangkat menjadi buruh tetap.

Alih-alih mendapat jalan keluar dari masalah yang dihadapi, pihak perusahaan yang dipanggil dalam audiensi multi pihak tersebut malah mengeluarkan ancaman di depan pejabat kabupaten Kutai Timur. Buruh diminta oleh perusahaan agar tidak bekerja selama 15 hari dengan alasan budget perusahaan yang menipis. Mendapat ancaman pihak PT Tapian Nadenggan sontak kaget dan memilih bungkam. Kepala Dinas Tenaga Kerja Kutai Timur yang mengikuti acara tersebut hanya menghimbau sebaiknya perusahaan harus membayar gaji buruh selama 15 hari meski mereka tidak bekerja karena hal tersebut ada aturannya. Namun hingga saat ini tuntutan buruh tidak pernah ditanggapi perusahaan, juga pemerintah kabupaten Kutai Timur.

Tak jarang pihak PT Tapian Nadenggan menantang buruhnya dan SBSI untuk maju ke meja hijau. Namun tantangan itu tak pernah ditanggapi para buruh dengan alasan tidak mampu untuk membiayai proses peradilannya. Posisi tawar buruh selalu lemah jika perusahaan mengancam untuk dibawa ke peradilan. Buruh juga pernah melakukan pengaduan kepada kepala desa tempat mereka tinggal, agar mengusulkan perbaikan nasib buruh ke pihak manajemen kebun. Para buruh juga mengirim surat langsung ke perusahaan menuntut hal yang sama.

Namun hingga saat ini semunya belum ada proses penyelesaiannya. Jika perusahaan mengetahui ada masyarakat yang mengadukan nasibnya kepada kepala desa atau tokoh adat, maka perusahaan menggunakan cara “culik” dengan mengajak kepala desa atau tokoh adat untuk makan malam bersama.

Begitupun halnya tuntutan buruh terhadap THR (Tunjangan Hari Raya) yang juga pernah diadukan ke Disnaker kabupaten kutai Timur. Disnaker menyarankan kepada buruh agar membuat surat laporan resmi, surat tersebut juga sudah di kirim namun tidak ada tindak lanjut.

Buruh harian tetap mungkin kerjanya lebih ringan dari kami dan mereka mendapatkan tunjangan hari raya dari perusahaan sebesar Rp. 800.000, sementara kami yang kerjanya lebih berat atau sama dengan mereka tidak diberikan THR. Sehingga kami berjuang masalah ini kepada pihak pemerintah. (Ibu 37 thn, buruh harian lepas)

Dengan berbagai resiko yang pernah dialami buruh, tidak ada sedikitpun tanggungjawab yang diberikan perusahaan. Misalnya, ketika buruh sakit atau kecelakaan disaat hari kerja dengan tidak ada sedikitpun fasilitas yang diberikan. Saat ini, telah banyak buruh penyemprot yang sudah merasakan dampak/ resiko atas profesinya.

“saya pernah sakit selama 2 bulan dan biaya saya tanggung sendiri. Selama saya sakit, perusahaan tidak memperhatikan saya, mungkin karena saya adalah buruh harian lepas. Saya pun pernah meminta obat atau uang untuk biaya kesehatan namun tidak diberikan oleh perusahaan. Selama saya bekerja saya merasakan, mual, pusing-pusing, gigi terasa mau jatuh dan muntah-muntah. Waktu saya sakit selama dua bulan itu, badan saya panas dan saya membeli obat di kios-kios kecil di kampung ini, klinik memang ada di perusahaan dan hanya bidang yang ada disana, namun itu hanya dikhususkan untuk buruh tetap. Pernah saya meminta obat satu kali, itu prosesnya panjang, harus melalui mandor lapangan dan terus ke asisten, itu kalau disetujui. Saya pernah mencoba dengan membuat surat untuk meminta obat tapi tidak ada hasilnya” ( ibu 37 thn, buruh harian lepas).

Setelah tinggal selama 5 hari bersama para buruh kebun sawit, Tim SW pun berpamitan pulang ke kota Bogor. Ada rasa haru mencekam. Sambil berjabat tangan, setiap buruh menatap dengan penuh harap agar hasil investigasi ini bisa sedikit saja bisa memperbaiki nasib mereka.

Para buruh di kebun sawit ini telah kehilangan hutan dan tanahnya. Janji kebun plasma sudah sepuluh tahun dinanti, namun tak kunjung berujud juga. Demi bertahan hidup di hari ini, mereka memburuhkan diri. Bukan untuk membangun hari esok, tapi sekali lagi, demi bertahan hidup di hari ini saja!

Apakah masker seharga Rp 4.000,- yang sekali saja diberikan kepada buruh terlalu mahal untuk diganti bila itu robek oleh PT Tapian Nadenggan yang bisa menghasilkan jutaan ton CPO dari puluhan ribu luas kebun sawitnya? Bagaimana dengan sarung tangan, jas plastik dan sepatu booth yang melindungi buruh dari resiko pekerjaan? Apakah para buruh harian lepas harus menyediakan alat-alat kerja sendiri agar bisa memburuh di kebun sawit tersebut? Cukupkah sekaleng kecil susu CAP ENAK yang dibagi 12 orang buruh sebagai penangkal racun, ketika mereka setiap orang mesti memanggul 1 tanki dengan berat 12-15 liter air bercampur pestisida? Jelas sekali, susu itu sudah tak enak lagi. Lantas apa fungsinya klinik perusahaan kalau buruhnya sendiri tidak mendapat pelayanan kesehatan optimal?

Bagaimana bisa pemerintah kabupaten dan anggota dewan perwakilan rakyat daerah yang terhormat hanya melihat rakyat dan konstituennya hidup dalam penderitaan tanpa melakukan apapun? Apakah dana revitalisasi kebun sebesar Rp 51 triliun itu mencantumkan perbaikan kesejahteraan dan kesehetan buruh kebun sawit? Dimana tanggung jawab negara ini terhadap warganya?

Hari ini matahari masih terbit di timur, yang menandakan dimulainya kehidupan memburuh. Besok matahari pun masih akan terbit di timur bumi yang berarti semua pihak mesti melakukan perubahan agar para buruh tidak lagi hidup untuk sehari, melainkan hidup berhari-hari. Pemerintah, DPR dan PT Tapian Nadenggan juga buruh sendiri yang harus berdiri di depan mengupayakan hal itu (jgs).

Oleh; Jefri G Saragih

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *