Pak Juki, Si Pekebun Sawit Mandiri

ditulis oleh:   |   23-06-2011 | 16:05 WIB

‘Kami menanam sawit di sela-sela kelapa kami, kami menanam tidak diburu oleh waktu, semampu kami, bila sehari kami mampu menanam satu atau dua pokok batang sawit, yach kami tanam, kami tidak menggunakan kredit dari bank karena kami belum mengerti tentang kredit bank, kami menjual hasil-hasil kebun kami di usaha bersama kami, yang orang luar sebut sebagai koperasi, ke depan, selain panen kelapa kami akan memanen sawit juga. Bila menanam sawit di lahan gambut, maka perlu digali sekitar 1 m3 ketika air surut lalu dimasukkan bibit kelapa sawit lalu sedikit ditimbun dengan sendirinya nanti tertimbun oleh sampah-sampah. Ini dilakukan agar sawit tidak roboh nantinya. Tapi saat ini, kami belum bisa mengetahui beda bibit sawit palsu dan bukan’ demikian cerita Pak Juki, salah satu peserta dalam acara pertemuan petani smallholder di Pekanbaru, Riau tanggal 23 – 24 Juli 2006. ‘Mereka ini adalah gabungan karakter baik antara orang-orang Jawa dan orang-orang Banjar, dimana mereka berhasil mensintesakan pengetahuan orang banjar yang pintar bertanam di wilayah gambut dengan paritan dan karakter kerja kerasnya orang jawa dalam menaklukan alam, hasil kawin mawin inilah tercipta adat keparitan’ demikian imbuh Dody, salah satu orang yang sering mengunjungi kampung Pak Juki.

Kampung Pak Juki terletak Indragiri Hilir, tepatnya Dusun Sukamandiri, Kecamatan Enok. Kabupaten Pak Juki adalah salah satu sentra kelapa atau kopra di Indonesia. Pengalaman lah yang mendidik Pak Juki sehingga menjadi seperti saat ini. Beberapa tahun yang silam, Kampung Pak Juki adalah kampung sasaran beberapa proyek pembangunan yang didanai oleh Bank Dunia. Beberapa proyek-proyek yang teridentifikasi adalah proyek kelapa sawit hibrida, proyek ini dianggap gagal disamping memang kurang cocok dengan kondisi geografis, juga terjadi kebakaran ketika kelapa hibrida berumur tiga tahun.

Sempat juga, proyek padi unggul IR-5 mampir di wilayah ini tetapi lagi-lagi gagal. Beberapa orang menanam padi jenis ini, walaupun padi ini berumur pendek dan pendek tanamannya, tetapi sekali lagi tidak cocok dengan kondisi geografis, yang terjadi adalah padi jenis ini kurang tumbuh optimal dikarenakan kelelep oleh air pasang surut Sungai Siak. Karena itu, saat ini, hampir semua orang di Kampung Pak Juki menanam padi lokal yang berumur agak panjang dan tinggi tetapi padi tersebut sangat adaptif terhadap kondisi geografi disana.

Adat yang berdasarkan keparitan

Kampung Pak Juki terletak di daerah pasang surut Sungai Siak dimana gambut dapat ditemui dimana-mana, sehingga airnya masam. Gambut disana sekitar tiga meteran kedalamannya dan seringkali orang-orang di kampung pak juki menggunakan gambut untuk pupuk. Karena kondisinya adalah wilayah pasang surut disana terdapat pengetahuan berkebun yang dilatari oleh teknik berparit disertai oleh pintu-pintu pengatur keluar masuknya air.

Lewat parit lah orang-orang kampung pak juki melakukan pengorganisasian dalam melakukan bertanam tumbuh dimana umumnya menanam kelapa biasa. Tidak ada sertifikat tanah sebagai bukti kepemilikan yang ada adalah ketika masyarakat akan membuka kebun maka harus melalui musyawarah di parit dimana orang tersebut akan membuka kebun. Tiap parit mempunyai ketua-ketua-nya sendiri dan bersifat otonom. Ketika konstituen suatu parit menyetujui maka orang tersebut dapat membuka kebun tanpa ijin konstituen parit ini maka orang tersebut tidak bisa membuka kebun. Secara sederhana lanskap wilayah kampung pak juki seperti yang terlihat di gambar1.

Gambar 1. Lanskap sederhana kawasan padi pasang surut dan kebun

Ketika perusahaan perkebunan kelapa sawit skala besar masuk ke wilayah ini terjadi konflik antara masyarakat dengan perusahaan. Lewat adat keparitan inilah pengorganisasian perjuangan terhadap perusahaan perkebunan kelapa sawit dilakukan. Kelompok parit Pak Juki termasuk salah satu kelompok yang keras menolak masuknya kelapa sawit di lahan mereka. Alasannya sederhana sekali disamping lahan mereka tidak mau diserahkan ke perusahaan perkebunan kelapa sawit juga mereka tidak paham apa itu kelapa sawit? Akhirnya lewat perjuangan yang keras lahan-lahan milik beberapa kelompok keparitan ini tidak dimasukkan ke lahan milik perusahaan perkebunan kelapa sawit dimana tanda perbatasannya berupa kanal besar. Di waktu senggang yakni menunggu padi menguning dan belum ada kerja di kebun kelapa. Beberapa masyarakat di kampung pak juki menjadi buruh harian lepas di beberapa perkebunan kelapa sawit di sekitar kampung mereka. Pelan dan pasti, beberapa masyarkat di kampung pak juki mempelajari teknik berkebun kelapa sawit. Dengan tambahan pengetahuan yang ada selama ini, kampung pak juki mencoba kelapa sawit di lahan-lahan mereka, lihat gambar 2.

Gambar 2. Sawit di sela-sela kelapa

Kemandirian yang tampak

Apa yang tampak dalam diri kampung pak juki adalah soal kemandirian. Mereka menimbang-nimbang tentang kapasitas diri mereka dan keadaan eksternal, apakah memperkuat atau memperlemah kondisi mereka ketika terjadi perubahan. Ketika aset mereka berupa tanah akan diambil oleh perusahaan kelapa sawit untuk anggunan ke bank, serentak organisasi adat keparitan mereka bergerak dan bereaksi cepat untuk menolaknya. Tawaran kelapa diganti oleh kelapa sawit langsung ditolak oleh mereka dengan alasan sederhana saja yakni mereka belum mempunyai pengetahuan soal menumbuhkembangkan sawit dan soal kredit.

Pelan tapi pasti mereka belajar soal sawit lewat tanaman sawit di sekeliling mereka. Analisis mereka saat ini, sawit di tempat mereka menguntungkan karena sawit dapat dijual dimana-mana karena di wilayah mereka terdapat banyak pabrik cpo bukan satu pabrik cpo saja. Mereka menanam kelapa sawit, tapi lagi-lagi tidak semua tanaman diganti sawit tapi sebagian bahkan tidak diganti tetapi ditanam disela-sela kelapa mereka. Mereka paham yakni tidak mau menggantungkan hidupnya pada satu komoditas yakni sawit saja. Ketika harga kelapa turun harganya mereka masih mempunyai sawit, begitu juga sebaliknya ketika sawit turun harganya mereka masih mempunyai kelapa. Dan beras mereka tidak membeli sehingga lebih aman kondisinya jika dibandingkan hanya menggantungkan satu komoditas yakni sawit.

Ketika kondisi pemasaran hasil-hasil pertanian mereka tidak begitu kuat, mereka mengorganisir diri ke dalam lembaga ekonomi koperasi. Beberapa tawaran harga kelapa lebih tinggi sering ditawarkan mereka tetapi mereka menolak untuk menjual di luar usaha bersama mereka. Mereka paham bahwa usaha bersama adalah kekuatan mereka sehingga penjualan di luar adalah kepentingan sesaat tetapi menjual di usaha bersama mereka adalah untuk kepentingan jauh ke depan. Di luar urusan diatas, terdapat anggota mereka yang pernah dicalonkan salah satu partai untuk menjadi calon wakil rakyat di dprd tingkat propinsi, walaupun tidak jadi, ini membuktikan mereka juga melek politik. Pengakuan ini bukan omong kosong, tokoh sekaliber Gus Dur, pernah jauh-jauh dari Jakarta datang ke kampung mereka, hanya untuk meresmikan masjid mereka artinya mereka dengan entitas saat ini mempunyai bargaining politik yang tinggi.

Dengan kondisi saat ini, yang tampak dari Pak Juki dan kampungnya adalah berdaulat secara politik, berdikari (berdiri di kaki sendiri) secara ekonomi dengan usaha bersama mereka dan mempunyai kepribadian dalam berbudaya yang kuat yakni adanya adat keparitan. Itulah contoh dari sekian pekebun mandiri yang ada di Indonesia bukan pekebun obyek pihak lain. Oleh (A Surambo)

Kirim Komentar


*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
    Berita Terbaru
    09-12-2014 | 17:52 WIB

    Informasi lebih lanjut: Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Nasional Aliansi ...

    Kirim SMS dengan format :
    • - PIK [spasi] PESAN
    • - SW [spasi] PESAN
    kirim ke : 082111122334


      Data SMS Selengkapnya

    Donasi