SI BURUH ANAK PERKEBUNAN SAWIT

Namaku Kiki Amelia anak ke-4 dari 9 bersaudara. Ayahku bernama Atmansyah (43 tahun) bekerja sebagai kuli panggul di pelabuhan Ketapang, sedangkan ibu, Ratna Wulandari (37 tahun) hanya menjadi pengasuh bagi anak-anaknya. Penghasilan ayah yang minim terkadang memaksa kami untuk puasa menahan lapar. Kebutuhan akan pakaian dan perumahan yang layak rasanya sulit untuk terpenuhi. Kami sudah akrab dan terbiasa hidup dalam kekurangan dan kemiskinan.

Kehidupan di kota Ketapang yang semakin sulit, memaksa ayah dan ibu berpisah rumah meski tidak bercerai. Ayah tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai buruh pelabuhan, sedangkan ibu pulang ke tanah kelahirannya di kecamatan Kendawangan bersama kami anak-anaknya untuk mencari peruntungan baru. Di tempat baru inipun, hidup kami tidak lebih baik karena tidak ada harta peninggalan kakek-nenek yang bisa kami nikmati. Bahkan untuk tempat tinggal saja kami mesti mengontrak rumah kecil yang penuh sesak.

Rasa iba yang mendalam pada penderitaan orang tua dalam membiayai saudara-saudara, memaksaku membuat keputusan untuk tidak melanjutkan pendidikan. Aku berhenti sekolah saat duduk di kelas 6 Sekolah Dasar. Alasanku berhenti sekolah karena di Kendawangan sedang dibangun perkebunan sawit dan pertambangan bauksit milik PT Harita Grup. Perusahaan asal Malaysia tersebut sedang membutuhkan banyak buruh untuk bekerja di kebun sawit dan tambangnya. Melihat peluang itu, saya memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih bekerja untuk meringankan beban orang tua.

Maka sejak bulan Juni 2007, aku resmi bekerja menjadi buruh harian lepas di anak perusahaan PT HARITA yang bergerak di perkebunan sawit bernama PT  GUNAJAYA KARYA GEMILANG. Sejak awal bekerja, saya ditempatkan di divisi pembibitan regu 2, yang bertugas untuk mengolesi bibit sawit dengan pestisida agar tidak dirusak oleh hama dan jamur. Cara mengolesinya dilakukan dengan tangan telanjang. Dimana pestisida dimasukkan ke dalam ember yang telah berisi air, dan kami para buruh mipping, mencelupkan tangan ke dalam ember itu, menyentuh racun yang ada di dalamnya serta langsung mengoleskannya ke bibit sawit. Begitulah pekerjaan saya sejak pukul 07.00 – 15.00 wib.

Saya bekerja karena diajak oleh buruh-buruh lain dan atas seijin mandor. Tidak ada perjanjian kontrak kerja terhadap pihak manajemen kebun. Yang saya tahu, setiap hari apabila bekerja saya dibayar Rp 26.800,-. Tidak ada makanan atau snack dari perusahaan saat bekerja. Juga alat-alat kerja dan perlindungan diri seperti masker, baju plastik dan sepatu boot juga harus disediakan sendiri oleh si buruh, tidak diberikan oleh pihak manajemen.

Awal bekerja saya pernah merasa mual dan pusing, namun saya percaya itu karena kurang istirahat atau akibat makan kurang teratur. Gejala yang sama juga pernah dikeluhkan beberapa temen seregu, namun banyak buruh yang menanggapinya sekedar saja.
Hingga peristiwa nahas itu terjadi sampai saat ini, kondisiku sangat lemah. Jangankan untuk bekerja, berbicara saja rasanya capek sekali…Saya kadang berpikir untuk mati saja karena sakit yang begitu kuat menggerogoti tubuh dan kemiskinan keluarga yang semakin menghimpit. Sawit Watch dan tim memang telah membantu, tapi kemana pihak-pihak lain yang lebih punya kepentingan dan wewenang? Kemana manajer kebun? Kemana Pak Lurah, campat dan bupati? Tidak ada yang peduli pada nasib orang kecil seperti kami.

Rumah kontrakan kayu yang sudah reot milik kami, mungkin tak akan pernah berganti lebih bagus. Yang mungkin malah kami akan terusur karena saya sudah tidak bekerja lagi dan menjadi beban keluarga karena sakit-sakit. (Mata Kiki mulai berlinang air mata meski dia masih berusaha untuk bersikap tegar-red).

Jujur saja, saya tak pernah lagi punya mimpi untuk sekolah atau meraih titel apapun dari bangku sekolahan. Doaku hanya sederhana, ”Semoga kami masih bisa makan dan punya tempat tinggal hari ini…”  (jefri gideon saragih)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *