DESKRIPSI KASUS PENYEROBOTAN TANAH DESA SINGKOYO DAN DESA TOILI

YANG DI KELOLA SECARA TURUN-TEMURUN

OLEH  PT KURNIA LUWUK SEJATI (KLS)

 

  • Tanah yang dikelola masyarakat Desa Singkoyo dan Desa Toili yang terletak di sebelah selatan dan utara areal HGU milik PT. KLS seluas ± 1.550 Ha saat ini telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit (INTI) yang  dikuasai oleh PT. Kurnia Luwuk Sejati (KLS), padahal lahan masyarakat tersebut jika dilhat berdasarkan peta Proyek Perkebunan Kelapa Sawit Perkebunan Besar Swasta Nasional (1997) tidak masuk dalam areal HGU perusahaan yang dimaksud. Proses pengambilalihan atau penyerobotan yang dilanjutkan dengan penanaman kelapa sawit di lahan masyarakat dilakukan oleh PT. KLS sejak tahun 1996 melalui proses-proses intimidatif. Selain melalui tindakan penyerobotan, PT. KLS juga menguasai lahan milik masyarakat melalui proses jual beli yang konspiratif dengan melibatkan pemerintah desa Singkoyo dan desa Toili.
  • Fakta bahwa PT. KLS telah melakukan penyerobotan lahan masyarakat (di luar areal HGU) dikuatkan dengan keterangan yang disampaikan oleh Bpk. Toni Dewanto yang merupakan mantan karyawan PT KLS yang 16 tahun bekerja di perusahaan, bertugas melakukan pengukuran sampai penggusuran di wilayah HGU.
  • Berdasarkan Peta HGU, dari arah Jembatan HGU di Pertemuan aliran Sungai Toili dengan Jalan dari Km 14 (tepatnya Kurang lebih di antara titik Kilometer 18-19) panjang wilayah kelola HGU adalah 4 Km. Dalam praktiknya ternyata HGU telah dikelola oleh PT KLS mencapai 7,6 Km., dari Arah jembatan HGU tersebut. Jadi selama ini PT KLS telah mengelola kelapa sawit di Lahan yang bukan merupakan areal HGU perusahaan tersebut. Fakta ini juga sesuai dengan hasil pemetaan lapangan dan analisis GIS (Global Informastion System) yang dilakukan oleh Mapala Santigi Universitas Tadulako-Fras Sulteng pada tanggal 3 sampai 13 Desember 2009. Dimana hasil pemetaan ini menunjukkan bahwa ± 1.550 Ha lahan yang dikelola secara turun temurun oleh masyarakat desa Singkoyo dan desa Toili telah diserobot dan ditanami kelapa sawit INTI oleh PT Kurnia Luwuk Sejati.
  • Di bulan Agustus 2009, perwakilan masyarakat Desa Singkoyo menempuh jalur dengan melaporkan kasus ini di Komnas Ham. Sehingga pada tanggal 16 November 2009 tim komnas ham datang untuk melakukan peninjauan lapangan di lahan yang disengketakan oleh masyarakat. Sehingga pada tanggal 17 November 2009 diadakan pertemuan di kantor Bupati Kab Banggai antara Komnas Ham, Pemda Kabupaten Banggai dan Perusahaan, yang menghasilkan rekomendasi komnas Ham yang salah satu pointnya adalah :….”warga dan perusahaan tidak melakukan kegiatan apapun di atas tanah sengketa yang terletak di Desa Singkoyo selama proses penyelesaian masalah berlangsung  (STATUS QUO)..”
  • Tetapi dari rekomendasi Komnas Ham ini, pihak perusahaan tidak mengindahkannya, perusahaan masih juga melakukan aktivitas di lahan yang disengketakan warga. Sehingga pada tanggal 8 Desember 2009, masyarakat berinisiatif untuk melakukan pelarangan aktivitas baik terhadap warga dan perusahaan untuk tidak melakukan aktivitas di lahan yang disengketakan selama belum ada penyelesasiannya. Bentuk pelarangan yang dilakukan warga adalah memasang papan-papan plang yang berisi….”hentikan aktivitas di lahan sengketa ini…”.
  • Besoknya harinya warga mendapatkan papan-papan plang tersebut telah hilang….dari saksi mata (Markus, Salmun, dan Haerun) warga Desa Singkoyo dan Desa Toili mereka melihat pencabutan papan-papan plang tersebut, dilakukan oleh oknum polisi yang bernama Piter dan Made, yang sehari-hari mereka sebagai keamanan di PT Kurnia Luwuk Sejati.
  • Sehingga warga marah, pada tanggal 17 Desember 2009 warga melakukan pendudukan di lahan mereka yang telah di serobot oleh PT Kurnia Luwuk Sejati (berdasarkan keputusan rapat akbar PEPSI-Persatuan Petani Singkoyo dan PESTRO-Persatuan Petani Toroka pada tanggal 13 Desember 2009). Dengan satu tuntutan : “KEMBALIKAN TANAH RAKYAT DAN ADILI PT KURNIA LUWUK SEJATI”.
  • Kemudian pada tanggal 3 Januari 2010, 300 petani melakukan kembali pendudukan lahan mereka. Aksi petani yang melakukan perlawanan terhadap penyerobotan lahan mereka oleh PT KLS dengan melakukan penebangan pohon-pohon kelapa sawit yang telah ditanami perusahaan sebagai perkebunan INTI.
  • Aksi perlawanan..(pendudukan) petani ini tidak mendapatkan reaksi apa-apa dari perusahaan.
  • Aksi pendudukan lahan yang serupa juga dilakukan oleh 300 rakyat tani Desa Piondo Kecamatan Toili, yang bersengketa dengan HTI (Hutan Tanaman Industri) PT KLS seluas 13.400 Ha. HTI PT KLS telah melakukan penyerobotan lahan warga desa piondo seluas 184 Ha yang telah ditanami sawit oleh perusahaan.
  • Aksi pendudukan yang sama juga dilakukan 200 warga tani desa Moilong dan Tou, dimana HGU PT KLS telah melakukan penyerobotan lahan 2 desa tersebut seluas 745 Ha.
  • Sampai kini warga tani masih bertahan di lahan-lahan tersebut dengan mendirikan tenda dan pondok-pondok kayu, sembari mereka menanam lahan yang diserobot tersebut dengan kelapa dalam dan pisang. Warga tani juga masih berjaga-jaga apabila pihak perusahaan ataupun aparat keamanan melakukan reaksi perlawanan terhadap mereka, mereka akan menghadapi reaksi perusahaan/aparat keamanan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *