Kronologi

Pembunuhan dan Penangkapan Sewenang-Wenang Polisi kepada Petani Riau

yang Berjuang Melawan Perkebunan Kelapa Sawit PT Tri Bakti Sarimas (TBS) Kuansing

Kuantan Sengingi, Riau-08 Juni 2010

 

Selasa, 8/6/2010

09.00-13.00

Massa petani dari 11 desa Kecamatan Lubuk Jambi berkumpul di Desa Koto Cengar. Mereka adalah anggota Koperasi Tani Prima Sehati yang selama ini berkonflik dengan PT Tri Bakti Sarimas (TBS) Kuansing.

 

10.00-13.00

Massa masuk ke wilayah kebun plasma petani dan melakukan panen tandan sawit. Luas plasma  9.314 hektar. Jumlah massa yang memanen sekitar 300 orang. Jumlah tandan Sawit yang sudah dipanen sekitar 3 ton, hingga aparat kepolisian datanh di lapangan.

 

13.00-13.40

Masyarakat dihadang oleh aparat, kurang lebih 300 orang aparat polisi dari Kepolisian Resort (Polres) Kuansing dan Satuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah (Polda) Riau. Polisi menghalau dan mengejar massa yang sedang memanen, disertai tembakan senjata api. Massa merespon dan bertahan dengan mengunakan lemparan batu. Terjadi bentrokan antara polisi dan petani. Polisi mengejar massa yang lari ke perkampungan dengan terus melepaskan tembakan.

Dua orang anggota petani dari Koperasi Prima Sehati, yaitu ibu YUSNIAR (45) dan Bapak DISMAN  (43) terkena tembakan dalam pengejaran aparat polisi ini. Ibu YUSNIAR meninggal di tempat, sementara DISMAN dilarikan di rumah sakit Teluk Kuantan.  Selain itu, 11 orang petani luka-luka terkena pukulan dan tendangan aparat.

Polisi juga merusak 10 unit motor milik petani, dan menangkap 11 orang petani, lalu dibawa ke Mapolres Kuansing.

 

13.40-14.00

Massa yang marah dengan tindakan polisi juga membalas tindakan polisi dengan membakar 1 (satu) unit mobil aparat polisi.

 

14.00-18.00

Petani kembali berkumpul, sebab ada informasi 2 (dua) petani meninggal dunia, serta 11 orang ditangkap aparat polisi. Kesepakatan petani mereka langsung menuju ke Mapolsek Kuantan Mudik untuk mendesak aparat polisi agar petani yang ditangkap dilepaskan, serta menuntut tanggungjawab polisi yang telah melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap petani.

 

18.00-21.30

Sekitar 500 orang petani menggelar aksi protes di Mapolsek Kuantan Mudik. Terjadi negoisasi dengan aparat untuk pembebasan seluruh petani yang ditangkap, penarikan aparat dari kampung, serta penghentian pengejaran dan penangkapan petani.

Sejumlah lembaga pemerhati gerakan petani, lingkungan hidup, dan hak asasi manusia di Jakarta dan Pekanbaru Riau mengeluarkan kecaman dan mengutuk aksi brutal aparat kepolisian di Riau.

 

22.00-22.15

11 orang petani yang sebelumnya ditangkap dan ditahan di Mapolres Kuansing dibebaskan. Selanjutnya massa petani membawa 11 orang petani tersebut ke Puskesmas Lubuk Jambi untuk mendapatkan perawatan medis. Rata-rata para petani lebam di bagian wajah dan tubuhnya akibat pukulan dan tendangan aparat.

 

22.15-23.00

Petani secara berangsur-angsur kembali  ke kampungnya masing-masing.***

 

Sumber:

– Petani Desa Koto Cengar anggota Koperasi Prima Sehati

– Posko Tim Advokasi Kasus Kuansing di Pekanbaru d/a WALHI Riau

Comments

  1. aww,
    salam kenal…
    saya mhon diberi informasi apakah memang ada penjualan lahan oleh petani seharga 60-80 jt /2ha dan akan menjadi sertifikat hak milik pd th 2014?bagaimana sistem pengalihan kepemilikan?apakah ada akta jual beli?sy tertarik dan perlu info detail..
    salam kenal…wass

  2. Wow,sungguh menakjubkan terjadi pertempuran sengit di tengah ladang.Dari pihak polisi mungkin ibarat makan buah simalakama,tidak dikerjakan ini tugas dan tanggung jawab,tapi jika dilaksanakan yang dilawan adalah orang2 kampung,orang2 kecil bahkan mungkin ada diantara mereka adalah orang tuanya.Kalau sudah terjadi begini,lalu siapa yang salah,siapa yang harus bertanggung jawab.Apakah orang yang membuat kebijaksanaan ini sudah merasa bijaksana,atau mungkin masa bodoh,yang penting “Gendang gendut tali kecapi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *